Monday, 12 December 2016

MENGKLASIFIKASI MODAL KOPERASI



Menurut pernyataan standar akuntansi keuangan PSAK No. 27, modal koperasi terdiri dan dipupuk dari simpanan, pinjaman-pinjaman, penyisihan dari sisa hasil usahanya termasuk cadangan serta sumber-sumber lain. Simpanan anggota dalam koperasi terdiri dari simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan sukarela. Simpanan sukarela dapat berasal dari bukan anggota. Cadangan koperasi dipupuk melalui penyisihan sisa hasil usaha dan cara-cara lain yang ditetapkan dalam anggaran dasar.
Dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 25 tahun 1992, tentang perkoperasian, bab VII tentang modal, dijelaskan bahwa modal koperasi terdiri dari modal sendiri dan modal pinjaman.

1.     Modal Sendiri
Modal sendiri adalah modal yang menanggug risiko atau disebut modal ekuiti.
Modal sendiri terdiri dari :
a.    Simpanan pokok (basic contribution)
    Simpanan pokok adalah sejumlah uang yang sama banyaknya yang wajib dibayarkan oleh anggota kepada koperasi pada saat masuk menjadi anggota. Simpanan pokok tidak dapat diambil kembali selama yang bersangkutan masih menjadi anggota
b.     Simpanan wajib (compulsory contribution)
    Simpanan wajib adalah jumlah simpanan tertentu yang tidak harus sama, yang wajib dibayar oleh anggota kepada koperasi dalam waktu dan kesempatan tertentu. Simpanan wajib tidak dapat diambil kembali selama yang bersangkutan masih menjadi anggota.
c.    Dana cadangan
    Dana cadangan adalah sejumlah uang yang diperoleh dari penyisihan sisa hasil usaha, yang dimaksudkan untuk memupuk modal sendiri dan untuk menutup kerugian koperasi bila diperlukan.
d.     Dana hibah (pemberian)


2.    Modal Pinjaman
Modal pinjaman adalah modal yang dapat diperoleh dari anggota, koperasi lain, bank (lembaga keuangan), penerbitan obligasi, surat utang lainnya dan sumber lainnya yang sah.

Tugas Individu

1.    Carilah informasi dari berbagai sumber mengenai jenis-jenis modal pinjaman yang bisa digunakan oleh koperasi!
2.    Dalam bentuk apa saja modal pinjaman yang diperoleh koperasi dari koperasi lainnya?


Tugas
untuk dikerjakan bersama teman Anda!

Perhatikan berita di bawah ini, diskusikan bersama teman Anda apakah hal ini termasuk modal koperasi, jelaskan alasannya!

Pertama Kali, Koperasi Dapat Saham HPH

Sebanyak 14 koperasi dan empat lembaga adat di sekitar areal hak pengusahaan hutan (HPH) di Kaltim mendapat saham 20 persen dari keuntungan perusahaan itu atau modal kerja dengan nilai Rp 100 juta-Rp 200 juta per koperasi atau lembaga adat itu. Ini pertama kali perusahaan HPH memberi saham atau modal kerja semacam itu. Penyerahan saham atau modal kerja kepada koperasi dan lembaga adat ini dilakukan Ketua Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Kaltim, Harbiyansah, kepada wakil-wakil koperasi/lembaga adat itu, Kamis (17/2), di Samarinda. Acara ini disaksikan Menteri Koperasi dan Pengusaha Kecil Menengah (PKM) Zarkasih Nur, Sekjen Dephutbun Soeripto, dan Gubernur Kaltim Suwarna AF. (Sumber: Kompas 18 Feb 2000)

Mencatat transaksi ke Jurnal khusus

Mencatat transaksi ke Jurnal khusus

Di perusahaan besar, transaksi-transaksi tertentu terjadi berulang-ulang dan secara terus-menerus. Untuk kepentingan pengawasan dan keprakstisan pengolahan data, satu buku jurnal yang berfungsi sebagai tempat mencatat semua jenis transaksi, dikembangkan menjadi beberapa buku jurnal yang dinamakan buku jurnal khusus (special journal). Dengan jurnal khusus, pencatatan transaksi dikelompokkan sesuai dengan jenis transaksinya. Setiap terjadi transaksi, petugas pembukuan mengidentifikasi jenis transaksi yang terjadi dan mencatatnya ke jurnal khusus. Manfaat jurnal khusus adalah:
1)    Memungkinkan pembagian pekerjaan (spesialisasi)
    Pembagian pekerjaan dapat dilakukan dengan baik karena terdapat beberapa jurnal sesuai dengan jenisnya. Jadi, bagi perusahaan yang besar sangat mungkin satu orang menangani satu jurnal atau dua jurnal.
2)    Memudahkan posting ke akun buku besar
    Salah satu tujuan penyelenggaraan jurnal khusus adalah agar lebih mudah atau lebih praktis melakukan posting ke buku besar, karena jurnal khusus dipindahkan ke akun buku besar secara berkala. Jadi, tidak perlu setiap terjadi transaksi langsung diposting ke buku besar.
3)    Memungkinkan pengendalian intern yang lebih baik
    Apabila hanya satu orang petugas yang menangani satu atau dua jurnal khusus, pengendalian intern akan lebih baik dibandingkan dengan satu orang menangani semua jurnal.
4)    Menghemat biaya
    Memungkinkan penghematan biaya karena dapat menghemat kertas dan tenaga. Dengan jurnal umum, untuk 100 kali transaksi yang sama dibutuhkan 100 kali posting ke akun buku besar sedangkan pada jurnal khusus posting dapat dilakukan satu kali.

1.     Macam-Macam Jurnal Khusus Perusahaan Dagang
Jurnal khusus yang dipergunakan dalam perusahaan dagang terdiri dari:
a.     Jurnal pembelian (Purchase journal)
Jurnal pembelian berfungsi sebagai tempat mencatat transaksi pembelian barang dagangan yang dilakukan secara kredit. Bentuk jurnal pembelian adalah sebagai berikut.

Keterangan:
1.    Kolom “Tgl” disi dengan tanggal transaksi sesuai dengan yang tertera dalam faktur pembelian,
2.    Kolom “Nama kreditor/Keterangan” diisi dengan nama (orang/perusahaan) atau keterangan singkat mengenai transaksi,
3.    Kolom “Ref.” digunakan untuk pengecekan apakah jumlahnya telah sesuai dengan perhitungan yang dilakukan pada buku besar pembantu atau belum. Bila telah sesuai, maka diberi tanda check mark ( Ö ),
4.    Kolom “Pembelian” diisi dengan harga pokok pembelian barang dagangan yang dibeli pada tanggal tersebut,
5.    Kolom “Perlengkapan” diisi dengan harga pokok pembelian perlengkapan yang dibeli pada tanggal tersebut,
6.    Kolom “Serba-serbi” diisi dengan kode akun, nama akun, dan jumlah yang sesuai untuk akun yang tidak terdapat pada lajur khusus,
7.    Kolom “Utang dagang” diisi dengan jumlah utang dagang yang terjadi pada tanggal tersebut.

Transaksi   
Des
2004

2


5

9


12


19


21


25
Diterima faktur no. W.009 dari PD Wahana untuk pembelian barang dagangan seharga Rp.3.500.000,00, syarat pembayaran n/30
Dibeli perlengkapan toko dari Toko Sejati faktur no. 012 seharga Rp.750.000,00
Diterima faktur no. 031 dari PD Wangi untuk barang dagangan seharga Rp.5.250.000,00 syarat pembayaran 2/10, n/30
Diterima faktur no. 056 dari Gunung Agung untuk pembelian printer seharga Rp.450.000,00 dan peralatan kantor seharga Rp.225.000,00
Dibeli barang dagangan dari PD Wahana seharga Rp.5.100.000,00, faktur no. W053 syarat pembayaran 2/10, n/30
Dibeli dari Toko Sejati perlengkapan Toko F No. 035 seharga Rp.600.000,00. Syarat pembayaran 3/10, n/60
Diterima faktur no. T0125 dari PT. Trimitra untuk barang dagangan seharga Rp.5.750.000,00. Syarat pembayaran 3/10, n/60

b.     Jurnal pengeluaran kas (Cash payment journal)
Jurnal ini berfungsi sebagai tempat mencatat transaksi-transaksi yang berhubungan dengan pengeluaran atau pembayaran melalui kas. Dalam pencatatan transaksi ke dalam jurnal pengeluaran kas, diperlukan bukti pengeluaran kas. Dari pengeluaran kas ini, dicatat tanggal dan nomor bukti pengeluaran kas pada kolom “tanggal” dan “nomor bukti pengeluaran kas”.
Bentuk jurnal pembelian adalah sebagai berikut.

Keterangan:
1.    Kolom “Tanggal” diisi dengan tanggal terjadinya transaksi,
2.    Kolom “Nomor bukti” diisi dengan nomor bukti transaksi, seperti nomor faktur, cek, giro, kuitansi atau bukti transaksi lainnya,
3.    Kolom “Keterangan” untuk mencatat nama kreditor, akun yang akan didebet atau nama transaksinya,
4.    Kolom ”Ref.” digunakan untuk mencatat tanda “ Ö ”, bila posting ke dalam buku besar pembantu telah dilakukan dan untuk mencatat nomor kode akun penjulan tunai dan jumlah serba-serbi bila diposting ke buku besar telah dilakukan
5.    Kolom “Pembelian” digunakan untuk mencatat jumlah rupiah transaksi pembelian barang dagangan secara tunai,
6.    Kolom “Utang dagang” untuk mencatat jumlah utang dagang yang dibayar/dilunasi,
7.    Kolom “Serba-serbi” untuk mencatat akun yang tidak disediakan dalam kolom khusus,
8.    Kolom “Kas” digunakan untuk mencatat hasil kredit pengeluaran uang tunai,
9.    Kolom “Potongan pembelian” diisi dengan jumlah potongan pembelian yang diterima.

Contoh:

Transaksi
Des
2004
1

3

4

6

7

10

13


16




20

22

25


28




31
Dikeluarkan cek no. RO278 untuk gaji karyawan sebesar Rp.3.800.000,00
Dibayar tunai premi asuransi untuk masa 1 tahun sebesar Rp.420.000,00
Dibeli barang dagangan seharga Rp.2.100.000,00, dibayar dengan cekno. RO279
Dibeli tunai perlengkapan kantor seharga Rp.325.000,00
Dibayar tunai rekening listrik dan telepon Rp.220.000,00
Dikeluarkan cek no. RO281, untuk pemasangan iklan sebesar Rp.250.000,00
Dibeli barang dagangan seharga Rp.1.500.000,00 ditambah biaya angkut sebesar Rp.75.000,00, dibayar dengan cek no. RO282
Dibayar kepada PD Wangi faktur no. 031, tanggal 9 Desember 2004 dengan cek no. RO283
harga faktur                 Rp.5.250.000,00
potongan pembelian         Rp.   150.000,00
dibayar dengan cek         Rp.5.100.000,00
Dikeluarkan cek no. RO284 untuk macam-macam beban sebesar Rp.300.000,00
Dikeluarkan cek no. RO285 untuk pembelian barang dagangan sehargaRp.1.800.000,00
Dikirim cek no. RO286 kepada Toko Sejati untuk pelunasan faktur no. 012 tanggal 5 Desember 2004, sebesar Rp.750.000,00
Dibayar kepada PD Wahana cek no. RO287 untuk pelunasan faktur no. W053 tanggal 19 Desember 2005
harga faktur             Rp. 5.100.000,00
potongan 2%             Rp.    102.000,00
diserahkan cek     Rp. 4.998.000,00
Dikeluarkan cek no. RO288 senilai Rp.1.200.000,00 untuk Prive Bp. Rizky sebagai pemilik PD. Warna

c.    Jurnal penjualan (sales journal)
Jurnal ini berfungsi sebagai tempat mencatat transaksi penjualan barang dagangan atau jasa yang dilakukan secara kredit.
Adapun bentuk jurnal penjualan baik dalam perusahaan dagang atau jasa secara sederhana dapat dilihat seperti dibawah ini.

Keterangan:
1.    Pada kolom “Tanggal” diisi dengan tanggal terjadinya transaksi penjualan secara kredit,
2.    Nomor faktur yang dikirim kepada pembeli diisi pada kolom ”No. Bukti” dan ditulis secara berurutan,
3.    Kolom nama “Debetur” diisi dengan nama pembeli yang membeli secara kredit,
4.    Kolom “Ref.” diberi tanda check mark ( Ö ), apabila faktur tersebut telah dicatat ke dalam buku besar pembantu piutang.
5.    Kolom “(D) Piutang (K) Penjualan” diisi dengan jumlah harga barang atau jasa yang tertulis di dalam faktur.

Kolom terakhir merupakan kolom waktu paling lambat untuk pembayaran yang harus dilakukan oleh setiap pembeli.

Contoh:

Transaksi   
Des
5


8


15

17

26
Dijual kepada Toko Alamanda barang dagangan seharga Rp.6.000.000,00 faktur no. 032, syarat 4/10, n/30
Dikirim kepada Toko Subur faktur No. 033 untuk barang yang dipesannya seharga Rp.3.750.000,00, syarat 4/10, n/30
Dikirim Faktur no. 034 ke PD. Mukti, untuk barang yang dipesan seharga Rp.3.200.000,00
Dikirim barang pesanan Toko Marhas seharga Rp.1.850.000,00 faktur no. 035 syarat 4/10, n/30
Dijual kepada Toko Alfa barang dagangan seharga Rp.5.000.000,00, faktur no. 036 syarat 4/10, n/30

d.     Jurnal penerimaan (Cash receipt journal)
Jurnal ini berfungsi khusus sebagai tempat mencatat transaksi-transaksi yang berhubungan dengan penerimaan kas atau transaksi-transaksi yang mengakibatkan kas perusahaan bertambah. Penerimaan kas dalam hal ini mencakup penerimaan uang tunai, cek atau giro bilyet perusahaan lain, transfer uang dari pihak lain ke rekening perusahaan di bank, atau penyetoran langsung dari Debetur ke bank untuk rekening perusahaan. Setiap transaksi penerimaan kas di perusahaan menggunakan bukti khusus berupa bukti penerimaan kas.

Keterangan:
1.    Kolom “Tanggal” diisi dengan tanggal terjadinya transaksi,
2.    Kolom “Nomor Bukti” diisi dengan nomor bukti transaksi,
3.    Kolom “Keterangan” digunakan untuk mencatat sumber penerimaan kas atau nama transaksi atas akun yang dikredit,
4.    Kolom “Ref.” diisi dengan nomor akun pada saat posting, kecuali untuk transaksi yang berkaitan dengan piutang dagang diisi dengan tanda ( Ö ) pada saat transaksi tersebut dicatat,
5.    Kolom “Kas” diisi dengan jumlah uang yang diterima pada tanggal transaksi yang akan dicatat pada sisi debet akun kas,
6.    Kolom “Potongan penjualan” diisi dengan jumlah piutang yang diterima pada tanggal tersebut yang akan dicatat pada sisi kredit akun piutang dagang,
7.    Kolom “Serba-Serbi” diisi dengan seluruh penerimaan kas selain dari penjualan tunai dan penerimaan piutang dagang, seperti penjualan wesel tagih, setoran modal, dan penerimaan bank.

Contoh:

Transaksi   
Des
5

11

14

18


22

23


24

25


27

29
Dijual barang seharga Rp.3.500.000,00, bukti kas no. 037
Diterima pinjaman dari Bank BNI sebesar Rp.12.000.000,00, bukti kas masuk no. 038
Penjualan tunai barang dagangan seharga Rp.2.500.000,00. Bukti kas masuk no. 039
Diterima cek dari Toko Alamanda untuk pembayaran sebagian dari harga faktur no. 032 tanggal 5 Desember 2004 sebesar Rp.3.000.000,00. Bukti kas no. 040
Penjualan tunai barang dagangan seharga Rp.2.000.000,00. Bukti kas masuk no. 041
Diterima cek dari PD Mukti untuk pelunasan faktur no. 034 tanggal 14 Desember 2004. Harga faktur Rp.3.200.000,00, syarat 4/10, n/30. Bukti kas no. 042
Penjualan tunai barang dagangan seharga Rp.2.350.000,00, bukti kas no. 043
Diterima cek dari Toko Marhas untuk pelunasan faktur no. 035 tanggal 18 Desember 2004. Seharga Rp.1.850.000,00, syarat 4/10, n/30 bukti kas no. 044
Penjualan barang dagangan seharga Rp.1.750.000,00 tunai. Bukti kas no. 045
Diterima cek dari Toko Subur, untuk pembayaran sebagian harga faktur no. 033 tanggal 9 desember 2004 sebesar Rp.1.500.000,00. Bukti kas no. 046

e.    Jurnal Umum (General journal)
Jurnal ini berfungsi sebagai tempat mencatat transaksi-transaksi yang tidak bisa dicatat ke dalam jurnal khusus. Misalnya transaksi intern seperti pembetulan kesalahan, penyesuaian, penutup buku, pembalikan saldo, retur pembelian atau pengurangan harga yang berasal dari pembelian kredit, dan retur penjualan atau pengurangan harga yang berasal dari penjualan kredit.

Contoh:
Misal selama bulan Desember 2004 pada PD Warna terjadi transaksi sebagai berikut.

Des
2004
6


7
Diterima faktur nomor 029 dari Toko Rinjani, untuk barang seharga Rp.1.500.000,00. Syarat pembayaran 2/10, n/30 No. 038
Dikirim nota debet no. 011 kepada Toko Rinjani untuk barang yang dikirm kembali seharga Rp.250.000,00 karena pecah

Transaksi yang terjadi pada tanggal 6 Desember 2004 dicatat dalam jurnal pembelian dan ke dalam buku besar pembantu hutang. Transaksi tangal 7 Desember berupa nota debet no. 011 dicatat dalam jurnal umum sebagai berikut.

Menganalisa dan mencatat transaksi ke jurnal umum

Menganalisa dan mencatat transaksi ke jurnal umum

1.    Pencatatan Transaksi Pembelian Barang Dagangan
Pembelian barang dagang yang dilakukan perusahaan baik secara tunai ataupun kredit dicatat pada kolom debet pada akun pembelian.

Contoh 1:
Toko Berkah, tanggal 3 Desember 2004, membeli barang dagangan seharga Rp.6.000.000,00 dibayar tunai. Transaksi ini dicatat dalam bentuk jurnal sebagai berikut.

Contoh 2:
Toko Berkah, tanggal 5 Desember 2004, membeli barang dagangan dari CV. Budikarya senilai Rp.4.500.000,00 dengan syarat 2/10, n/30. Transaksi ini dicatat dalam jurnal sebagai berikut.

2.     Pencatatan Transaksi Penerimaan Potongan Pembelian
Penerimaan potongan yang diterima pembeli karena pembayaran yang dilakukan lebih cepat, mengakibatkan pengurangan terhadap jumlah harga beli barang. Oleh pihak pembeli dicatat pada akun potongan pembelian.

Contoh:
7 Des 2004, Toko Berkah membeli barang dari supplier tetap seharga Rp. 4.000.000,00 denga syarat 2/10, n/30. 15 Desember 2004, Toko Berkah melunasi faktur pembelian pada supplier untuk pembelian tanggal 7 Desember 2004.
Maka, transaksi di atas akan dicatat oleh Toko Berkah dalam jurnalsebagai berikut.

Berdasarkan syarat pembelian 2/10, n/30 dari tanggal 7 Desember s.d. 15 Desember 2004 adalah 8 hari, maka transaksi pembayaran masih dalam periode potongan dan jumlah potongan yang diterima adalah:
Jumlah faktur                     Rp.4.000.000,00
Potongan pembelian 2% x Rp.4.000.000,00     Rp.     80.000,00
Jumlah yang harus dibayar            Rp.3.920.000,00
Transaksi di atas akan dicatat dalam jurnal oleh Toko Berkah sebagai berikut.

3.     Pencatatan Retur Pembelian dan Pengurangan Harga
Dengan adanya retur pembelian dan pengurangan harga, akan mengakibatkan harga beli barang yang dibeli menjadi berkurang. Pengurangan ini akan dicatat dalam akun retur pembelian dan pengurangan harga. Bila barang yang dikembalikan dari pembelian kredit, maka retur pembelian mengakibatkan pengurangan terhadap hutang dagang dan harus dicatat di sisi debet akun hutang dagang.

Contoh:
7 Desember 2004, Toko Berkah mengembalikan barang yang dibeli tanggal 5 Desember 2004 seharga Rp.500.000,00. Nota kredit dari CV. Budikarya diterima. Tansaksi ini akan dicatat dalam jurnal PD lancar sebagai berikut.

Setelah pos jurnal tanggal 5 Desember dan pos jurnal 7 Desember 2004 diposting ke dalam buku besar, akun-akun ini akan tampak sebagai berikut.

Pada akun hutang dagang, saldo sebesar Rp.4.000.000,00. Hal ini menyatakan saldo hutang setelah barang dikembalikan kepada penjual. Retur pembelian dan pengurangan harga dapat saja dicatat kredit pada akun pembelian, tetapi dengan cara demikian dalam laporan rugi laba tidak akan diketahui total pembelian kotor. Oleh sebab itu, dicatat kredit pada akun retur pembelian dan pengurangan harga (retur pembelian), dalam laporan rugi laba dilaporkan sebagai pengurangan total pembelian.

4.     Pencatatan Transaksi Penjualan Barang Dagangan
Transaksi penjualan dagangan yang dilakukan perusahaan dagang secara tunai atau dilakukan secara kredit dicatat di sisi kredit akun penjualan.
Contoh 1:
6 Desember 2004, Toko Berkah menjual barang dagangan ke PT. Trimitra seharga Rp.3.000.000,00 dengan pembayaran tunai. Toko Berkah akan mencatat pada jurnal sebagai berikut.

Contoh 2:
11 Desember 2004, Toko Berkah mengirim faktur penjualan pada PD Terang untuk barang seharga Rp. 2.250.000,00 dengan syarat 2/10, n/30. Toko Berkah akan mencatat pada jurnal sebagai berikut.

5.     Pencatatan Transaksi Retur Penjualan dan Pengurangan Harga
Retur penjualan atau pengurangan harga yang diberikan kepada pembeli karena barang yang dijual ada yang rusak atau cacat, oleh pihak penjual dicatat pada akun retur penjualan dan pengurangan harga. Bila barang yang diterima kembali berasal dari penjualan kredit, transaksi retur penjualan mengakibatkan pengurangan terhadap piutang dagang, maka harus dicatat dalam akun piutang dagang.

Contoh:
13 Desember 2004, Toko Berkah mengirim nota kredit pada PD. Terang untuk pengurangan harga atas barang yang dijual tanggal 11 Desember 2004 sebesar Rp.250.000,00 karena sebagian barang cacat. Toko Berkah akan mencatat pada jurnal sebagai berikut.

Prosedur pencatatan retur penjualan digambarkan sebagai berikut.

6.     Pencatatan Biaya Pengangkutan Barang yang Dibeli
Bila kontrak jual beli syarat penyerahan barang adalah FOB shipping point, maka semua biaya angkut barang dari gudang penjual sampai ke gudang pembeli menjadi tanggungan pihak pembeli. Biaya ini oleh pembeli dicatat pada akun biaya angkut masuk (freight in). Di akhir periode dalam rugi laba saldo, akun biaya angkut masuk dicatat sebagai penambah harga pokok barang yang dibeli.

Contoh:
16 Desember 2004, Toko Berkah membeli barang dagangan dari PT Sugity senilai Rp.8.500.000,00 dengan syarat 3/10, n/30. FOB shipping point. Untuk biaya pengangkutan dibayar tunai ke FedEX sebesar Rp.800.000,00, maka transaksi di atas oleh Toko Berkah akan dicatat dalam jurnal sebagai berikut.

7.     PencatatanBbiaya Angkut Keluar
Biaya pengangkutan barang dari gudang penjual sampai ke gudang pembeli ditanggung oleh pihak penjual (syarat FOB destination). Pihak penjual mencatat biaya pengiriman barang pada akun biaya angkut luar (delivery expense). Dalam laporan rugi laba akhir periode, saldo akun biaya angkut luar diinformasikan dalam kelompok beban penjualan.

Contoh:
19 Desember 2004, Toko Berkah menjual barang dagangan pada PT. Balitaru di Surabaya seharga Rp.15.000.000,00 dengan syarat 2/10, n/30. FOB destination. Untuk beban pengiriman, dibayar kepada FedEX sebesar Rp.650.000,00, maka dalam jurnal Toko Berkah akan dicatat sebagai berikut.

8.     Pencatatan Potongan Penjualan yang Diberikan kepada Pembeli
Potongan penjualan yang diberikan pada pembeli dapat dilihat contoh berikut.

Contoh:
19 Desember 2004, Toko Berkah menerima pembayaran dari PD. Terang untuk pembayaran faktur tanggal 11 Desember 2004 (lihat penjualan tanggal 11 Desember 2004). Selain itu, tanggal 13 Desember 2004, Toko Berkah telah memberikan pengurangan harga atas barang yang dijual. Untuk mencatat transaksi ini, maka akan dihitung untuk potongan penjualan sebagai berikut.
    Penjualan 11 Desember 2004            Rp.2.250.000,00
    Pengurangan harga                Rp.   250.000,00
    Saldo piutang pada PD. Terang        Rp.2.000.000,00
    Potongan penjualan 2% x Rp.2.000.000,00    Rp.     40.000,00
    Jumlah yang diterima dari PD. Terang    Rp.1.960.000,00

Berdasarkan perhitungan di atas, maka Toko Berkah mencatat transaksi tanggal 19 Desember 2004 adalah:

9.     Pencatatan Persediaan Awal dan Akhir Periode
Pada akhir periode, dalam penyusunan laporan rugi dan laba, perusahaan harus mengetahui nilai persediaan barang yang masih ada di gudang. Untuk mengetahui nilai sisa barang pada akhir periode, barang yang masih ada di gudang harus dihitung fisiknya, berapa kilogram atau unit barang yang ada sehingga diketahui kuantitasnya.
Nilai persediaan akhir periode adalah hasil kali kuantitas barang yang masih ada dengan harga satuannya. Sistem pencatatan seperti yang kita bahas ini disebut sistem fisik atau sistem periodik. Dengan sistem pencatatan fisik ini, nilai persedian akhir akan diketahui setelah dihitung secara fisik. Dengan demikian, belum atau tidak ada dalam catatan buku besar. Nilai persediaan barang dengan akhir periode ini dicatat dalam jurnal penyesuaian dengan cara mendebet akun persediaan dan mengkredit akun ikhtisar rugi laba.

Contoh:
31 Desember 2004, Toko Berkah akan menyusun laporan keuangan, maka dilakukan penghitungan sisa barang yang ada di gudang. Dari hasil penghitungan secara fisik, diperoleh nilai persedian dagangan tanggal 31 Desember 2004 seharga Rp.17.500.000,00. Dari data ini, maka pada akhir periode dibuat jurnal sebagai berikut.

Metode pencatatan persediaan barang dagangan

Metode pencatatan persediaan barang dagangan

Dalam perusahaan dagang, barang-barang yang dibeli dengan tujuan akan dijual kembali disebut persediaan barang (merchandise inventory), yaitu seluruh persediaan barang yang dimiliki. Persediaan barang dalam usaha dagang merupakan jumlah yang akan mempengaruhi neraca maupun laporan rugi laba. Oleh sebab itu, persediaan barang yang dimiliki selama satu periode harus dapat dipisahkan mana yang sudah dapat dibebankan sebagai biaya (harga pokok penjualan) yang akan dilaporkan dalam laporan rugi laba, dan mana yang masih belum terjual yang akan menjadi persediaan dalam neraca. Nilai persediaan barang dagangan memegang peranan penting dalam proses mempertahankan pendapatan dan biaya untuk satu periode tertentu. Oleh sebab itu, jika terjadi kesalahan di dalam menetapkan nilai persediaan akhir, mengakibatkan kesalahan penetapan laba kotor ataupun laba bersih. Disamping itu, jumlah yang termasuk ke dalam harta maupun modal dalam neraca juga akan ikut salah dan jumlahnya relatif cukup besar.

1.     Pencatatan Persediaan Barang Dagangan
Dalam pencatatan persediaan barang dagangan, baik pembelian (pemasukan) maupun penjualan (pengeluaran), dikenal dua metode pencatatan, yaitu:
a.     Metode perpetual (Perpetual/Continual inventory system)
Metode ini disebut juga dengan metode terus-menerus. Dalam sistem perpetual, berarti mutasi persediaan dilakukan secara kontinu. oleh sebab itu, tidak disediakan akun pembelian dan akun retur pembelian. Setiap pembelian barang dagangan langsung dicatat pada perkiraan persediaan. Selanjutnya, harga pokok penjualan tidak dihitung secara periodik melainkan setiap transaksi baik pembelian atau penjualan dilakukan pencatatan. Mutasi pertambahan atau pengurangan persediaan ditampung dalam akun Harga Pokok Penjualan (Cost of Goods Sold). Akun persediaan barang dagangan (Merchandise inventory) dalam sistem perpetual digunakan untuk mencatat persediaan yang terdapat pada awal periode.
Menurut metode perpetual (continual), semua pemasukan (pembelian) dan semua pengeluaran (penjualan) barang dibukukan ke dalam akun inventory dari barang yang bersangkutan, masing-masing sebesar harga pembeliannya. Dengan demikian, akun inventory senantiasa menunjukkan keadaan jumlah sisa persediaan barang yang masih ada beserta mutasi perubahannya. Oleh sebab itu, dengan hanya melihat catatan dalam akun ini, perusahaan sudah dapat mengetahui berapa sisa persediaan barang yang masih ada di gudang tanpa harus menghitung dan menilai secara fisik barang-barang tersebut (stock opname).
b.     Metode fisik (Physical inventory system)
Metode fisik disebut juga metode periodik atau metode berkala. Menurut metode fisik, semua pemasukan (pembelian) dan semua pengeluaran (penjualan) barang tidak dibukukan ke dalam akun persediaan dari barang yang bersangkutan. Pemasukan (pembelian) barang dibukukan ke dalam akun pembelian beserta beberapa akun yang menyertainya, yaitu akun diskon pembelian, akun retur pembelian, dan akun purchase allowance, sebesar harga pembeliannya. Sedangkan pengeluaran (penjualan) barang, dibukukan ke dalam akun penjualan beserta beberapa akun yang menyertainya, yaitu akun diskon penjualan, akun retur penjualan dan akun sales Allowance, sebesar harga penjualannya (yang mengandung rugi atau laba). Dengan demikian, akun persediaan hanya menunjukkan nilai persediaan awal dan persediaan akhir periode barang yang bersangkutan saja. Oleh sebab itu, jika perusahaan ingin mengetahui berapa sisa persediaan barang yang masih ada, harus melakukan penghitungan secara fisik barang-barang yang terdapat di gudang (stock opname). Perusahaan tidak dapat mengetahui jumlah tersebut hanya dengan melihat catatan dalam akun persediaan saja.

2.     Penilaian Persediaan Barang
Penilaian persediaan barang adalah menentukan nilai persediaan yang dicantumkan dalam neraca. Persediaan akhir biasanya dihitungharga pokoknya dengan menggunakan beberapa cara penentuan harag pokok persediaan akhir, tetapi nilai ini tidak selalu nampak dalam neraca. Jumlah yang dicantumkan dalam neraca tergantung pada metode penilaian yang digunakan.
a.     Penilaian persediaan berdasarkan metode fisik
Dalam metode fisik, dikenal beberapa cara penilaian persediaan, yaitu:
1)    Menggunakan tanda pengenal khusus (Special indentification)
    Metode ini didasarkan pada asumsi atau anggapan bahwa arus barang harus sama dengan arus biaya. Dalam tanda pengenal tersebut, terdapat harga pembelian barang yang bersangkutan. Dengan adanya tanda pengenal pada barang, maka pada akhir periode jika dibutuhkan nilai persediaan barang tersebut cukup dengan melihat dan memperhitungkan jumlah sisa barang itu beserta harga satuannya.
2)    Metode FIFO (First In First Out)
    Pada metode ini, barang yang masuk (dibeli) lebih awal, dianggap dikeluarkan (dijual) lebih awal pula. Dengan demikian, sisa persediaan barang pada akhir periode adalah barang-barang yang masuknya (dibelinya) paling akhir.
3)    Metode LIFO (Last In First Out)
    Menurut cara ini, barang yang masuk (dibeli) lebih awal, dianggap dikeluarkan (dijual) lebih akhir. Dengan demikian, sisa persediaan barang pada akhir periode adalah barang-barang yang masuknya (dibelinya) paling awal.

b.     Penilaian persediaan menurut metode perpetual
Metode ini berbeda dengan metode fisik. Metode perpetual akan mengalami kesulitan dalam penilaian karena setiap melakukan transaksi pengeluaran (penjualan) barang, saat itu pula harus ditentukan nilai cost of good sold (harga pokok penjualan). Metode penilaian persedian perpetual diantaranya:
1)    Metode FIFO (First In First Out)
    Barang yang masuk lebih awal, dianggap dikeluarkan lebih awal. Hal ini berarti setiap terjadi transaksi penjualan, maka cost of good sold dari barang yang dijual tersebut didasarkan pada nilai barang yang lebih awal masuk ke perusahaan.
2)    Metode LIFO (Last In First Out)
    Menurut cara ini, barang yang masuk (dibeli) lebih awal, dianggap dikeluarkan (dijual) lebih akhir. Ini berarti bahwa pada setiap terjadi transaksi penjualan, maka cost of goods sold dari bararlg yang dijual tersebut didasarkan pada nilai barang yang lebih akhir masuk ke perusahaan.
3)    Metode Moving Average
    Menurut cara ini, setiap terjadi perubahan jumlah persediaan barang, baik karena ada pemasukan (pembelian) maupun karena ada pengeluaran (penjualan), sisa persediaan yang ada segera dirata-rata nilainya (harganya). Nilai rata-rata tersebut dapat dihitung dengan membagi jumlah rupiah dari sisa persediaan barang dengan jumlah unit barang yang bersangkutan. Dengan demikian, cost of goods sold dari barang yang dijual dinilai berdasarkan harga rata-rata itu.

Mengklasifikasi akun-akun khusus yang dijumpai dalam perusahan dagang



Dalam kegiatan perusahaan dagang, terdapat transaksi pembelian dan penjualan barang dagangan yang dicatat dalam akun khusus tertentu. Untuk barang dagangan misalnya, hal ini dapat dicatat dalam dua akun. Pertama, akun pembelian (purchases) yang digunakan untuk mencatat pembelian barang dagangan selama suatu periode. Kedua, akun persediaan barang dagangan (merchandise inventory) yang digunakan untuk mencatat harga pokok barang dagangan yang terdapat pada awal dan akhir periode. Nilainya diperoleh setelah diadakan perhitungan secara fisik terhadap persediaan yang ada pada awal dan akhir periode akuntansi. Akun persedaiaan barang dagangan dan akun pembelian digunakan untuk menghitung harga pokok penjualan (cost of goods sold). Berikut ini akun-akun yang terdapat dalam perusahaan dagang.
1.     Akun Persediaan Barang Dagang
    Akun ini digunakan untuk mencatat persediaan barang dagang.
2.     Akun Pembelian
    Akun ini digunakan untuk mencatat semua transaksi pembelian.
3.     Akun Retur Pembelian dan Pengurangan Harga
    Akun ini digunakan untuk mencatat semua transaksi retur pembelian dan pengurangan harga.
4.     Akun Potongan
    Akun ini digunakan untuk mencatat transaksi potongan pembelian.
5.     Akun Beban Angkut Pembelian
    Akun ini digunakan untuk mencatat semua transaksi pembayaran biaya angkut barang yang dibeli.
6.     Akun Penjualan
    Akun ini digunakan untuk mencatat semua trasaksi penjualan barang dagang.
7.     Akun Retur Penjualan dan Pengurangan Harga
    Akun ini digunakan untuk mencatat transaksi penerimaan kembali barang yang dijual.
8.     Akun Potongan Penjualan
    Akun ini digunakan untuk mencatat transaksi potongan penjualan.

Definisi dan ciri-ciri perusahaan dagang

Definisi dan ciri-ciri perusahaan dagang

Perusahaan dagang adalah perusahaan yang kegiatan utamanya membeli barang jadi dan menjual kembali tanpa mengubah bentuk barang tersebut. Dari pengertian ini, ada beberapa hal yang merupakan kegiatan utama perusahaan dagang dan dapat diikhtisarkan sebagai berikut.
a.    Pembelian. Dalam kegiatan ini, meliputi pembelian barang dagangan, pembelian barang dan jasa lainnya yang digunakan untuk kegiatan usahanya.
b.    Pengembalian barang dagangan (retur pembelian). Pada waktu pembelian, barang kadang-kadang barang yang diterima tidak sesuai dengan yang dipesan atau kualitasnya menurun karena kerusakan sehingga oleh perusahaan akan dikembalikan.
c.    Pembayaran hutang pada pemasok. Jika barang yang dibeli dilakukan secara kredit, maka pada saat waktunya hutang tersebut harus dilunasi sesuai dengan syarat pembayaran yang telah disepakati. Syaratpembayaran adalah perjanjian antara penjual dan pembeli untuk pembayaran barang-barang yang dibeli. Pembelian barang dapat dilakukan secara tunai dan kredit. Pembelian tunai adalah pembayaran yang dilakukan secara langsung (waktunya bersamaan dengan penyerahan barang). Pembelian kredit adalah pembelian barang dagangan yang pembayarannya ditangguhkan. Dengan demikian, batas antara pembelian tunai dan pembelian kredit menjadi jelas. Dalam menyatakan syarat pembayaran dalam faktur, ada berbagai macam, yaitu:
1)    Syarat n/60, artinya pembayaran seluruh harga barang dagangandapat dilakukan selambat-lambatnya 60 hari sejak tanggal faktur (tanggal transaksi).
2)    EOM (end of month), artinya pembayaran seluruh harga barang dapat dilakukan selambat-lambatnya sampai dengan akhir bulan yang bersangkutan.
3)     2/10, n/30, artinya jika pembayaran dilakukan dalam jangka waktu 10 hari atau kurang akan mendapatkan potongan 2% dan pembayaran netto faktur paling lambat 30 hari.
d.    Pembayaran ongkos angkut barang yang dibeli. Dalam pembelian barang yang memerlukan jasa angkutan, timbul permasalahan siapakah yang akan menanggung ongkos angkut tersebut. Jika syarat jual beli Franco gudang penjual (free on board shipping point), maka yang akan menanggung biaya pengiriman barang dari gudang penjual sampai gudang pembeli adalah pembeli. Jika syarat jual beli Franco gudang pembeli (free on board destination point), maka penjual akan menanggung biaya pengiriman sampai ke gudang pembeli. Adakalanya dalam perjanjian jual beli disebutkan bahwa penjual harus menanggung biaya pengiriman dan asuransi kerugian atas barang tersebut. Syarat demikian disebut Cost, Freight and Insurance atau CFI.
e.    Penjualan. Penjualan merupakan pendapatan utama perusahaan dagang. Perusahaan akan menjual barang di atas harga pokoknya.
f.    Penerimaan kembali barang dagangan (retur penjualan). Seperti halnya waktu membeli, kadang-kadang barang yang telah dijual dikembalikan lagi karena tidak sesuai dengan yang dipesan oleh pembeli atau tidak sesuai pesanan.
g.    Penerimaan pelunasan piutang. Jika penjualan dilakukan secara kredit, maka pada saatnya akan diterima pelunasan piutang tersebut dari pelanggan. Dalam penerimaan piutang pun, perusahaan kadang-kadang akan memberikan potongan jika pelunasannya lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan.

Setiap perusahaan pada dasarnya merupakan perusahan dagang karena aktivitas pokok setiap perusahaan adalah “menjual” sesuatu kepada pihak lain (pembeli). Perusahaan dagang berbeda dengan perusahaan jasa yang hanya menjual jasa. Untuk itu, ada dua hal yang menjadi ciri-ciri dari perusahaan dagang, yaitu:
a.    Kegiatan usaha yang dilakukan
    Ditinjau dari usaha yang dilakukannya, perusahaan dagang menjalankan dua kegiatan yaitu membeli barang dagangan dan menjual kembali barang dagangannya tanpa mengubah bentuk/mengolahnya.
b.    Kegiatan akuntansi
1)    Menggunakan akun persediaan barang dagang. Persediaan barang terdiri dari persediaan awal, yaitu nilai barang yang dimiliki perusahaan pada awal tahun buku dan persediaan akhir yaitu nilai barang yang dimiliki perusahaan pada akhir periode akuntansi.
2)    Ada perhitungan harga pokok penjualan.
3)    Laporan laba-rugi dapat menggunakan bentuk single step (langsung) maupun mutiple step (bertahap).

Definisi dan ciri-ciri perusahaan jasa



Perusahaan jasa adalah suatu perusahaan yang kegiatan usahanya ditujukan untuk memperoleh pendapatan atau penghasilan melalui penjualan/pelayanan jasa-jasa tertentu. Oleh karena dalam perusahaan jasa tidak diperdagangkan barang kongkret, maka tidak ada istilah persediaan jasa. Dengan demikian, perkiraan persediaan tidak ada dalam perkiraan buku besar perusahaan jasa. Sumber penyusunan laporan keuangan pada perusahaan jasa meliputi neraca saldo, jurnal penyesuaian, dan neraca lajur.
Telah disebutkan di atas bahwa perusahaan jasa adalah perusahaan yang kegiatan usahanya mendapatkan penghasilan dari penjualan jasa tertentu. Ciri-ciri perusahaan jasa adalah:
1.    Mendapatkan penghasilan dari penjualan/melayani jasa,
2.    Karena tidak berupa barang, maka tidak ada akun persediaan barang dagang,
3.    Tidak ada retur pengembalian atas jasa yang dijual,
4.    Tidak ada perhitungan harga pokok penjualan.