Monday, 12 December 2016
Membuat neraca saldo setelah penutupan
Sesuai dengan penjelasan awal dapat dilihat bahwa akun-akun pendapatan dan biaya, setelah ditutup, saldonya nol, sehingga akun-akun yang mempunyai saldo setelah penutupan adalah akun-akun harta, hutang dan modal. Untuk menguji keseimbangan saldo akun-akun tersebut, dari data buku besar setelah penutupan, disusun neraca saldo. Setelah penutupan akan tampak sebagai berikut.
Menutup buku besar dan membuat jurnal penutup
Menutup buku besar dan membuat jurnal penutup
Di akhir periode akuntansi koperasi, akun-akun yang ada dalam buku besar harus dipindahkan ke akun tetap. Dengan demikian, akun-akun tersebut dapat digunakan untuk mengumpulkan data periode berikutnya. Untuk itu diperlukan suatu seri ayat jurnal yang disebut jurnal penutup (closing journal). Ayat jurnal penutupan adalah jurnal untuk me-nol-kan saldo akun-akun sementara apabila akan dimulai pencatatan data akuntansi periode berikutnya.
Pada penyusunan jurnal penutup dibutuhkan satu akun tambahan yang dapat digunakan untuk mengikhtisarkan data yang ada dalam akun-akun pendapatan dan biaya. Akun tambahan ini disebut ikhtisar rugi laba (income summary).
Untuk menyusun jurnal penutup ada tiga tahapan yaitu:
1. Akun-akun pendapatan didebet dengan jumlah saldo akhirnya masing-masing, Akun ikhtisar rugi laba dikredit dengan jumlah saldo akhir akun-akun tersebut. Dengan pendebetan seperti ini maka akun-akun pendapatan akan menjadi nol
2. Akun-akun biaya dikredit sebesar masing-masing saldo akhirnya dan akun ikhtisar rugi laba didebet sebesar jumlah saldo akhir akun-akun tersebut.. Dengan pengkreditan ini semua akun biaya akan bersaldo nol.
Untuk memberikan pengertian yang lebih jelas mengenai penyusunan jurnal penutup, maka kita gunakan data dari salon Raflesia.
Tahap 1: menutup semua akun pendapatan.
Tahap 2: menutup semua akun biaya
Di akhir periode akuntansi koperasi, akun-akun yang ada dalam buku besar harus dipindahkan ke akun tetap. Dengan demikian, akun-akun tersebut dapat digunakan untuk mengumpulkan data periode berikutnya. Untuk itu diperlukan suatu seri ayat jurnal yang disebut jurnal penutup (closing journal). Ayat jurnal penutupan adalah jurnal untuk me-nol-kan saldo akun-akun sementara apabila akan dimulai pencatatan data akuntansi periode berikutnya.
Pada penyusunan jurnal penutup dibutuhkan satu akun tambahan yang dapat digunakan untuk mengikhtisarkan data yang ada dalam akun-akun pendapatan dan biaya. Akun tambahan ini disebut ikhtisar rugi laba (income summary).
Untuk menyusun jurnal penutup ada tiga tahapan yaitu:
1. Akun-akun pendapatan didebet dengan jumlah saldo akhirnya masing-masing, Akun ikhtisar rugi laba dikredit dengan jumlah saldo akhir akun-akun tersebut. Dengan pendebetan seperti ini maka akun-akun pendapatan akan menjadi nol
2. Akun-akun biaya dikredit sebesar masing-masing saldo akhirnya dan akun ikhtisar rugi laba didebet sebesar jumlah saldo akhir akun-akun tersebut.. Dengan pengkreditan ini semua akun biaya akan bersaldo nol.
Untuk memberikan pengertian yang lebih jelas mengenai penyusunan jurnal penutup, maka kita gunakan data dari salon Raflesia.
Tahap 1: menutup semua akun pendapatan.
Tahap 2: menutup semua akun biaya
Membuat kertas kerja neraca lajur
Membuat kertas kerja neraca lajur
Untuk memudahkan penyusunan laporan keuangan koperasi, perlu disusun kertas kerja (work sheet) atau yang biasa disebut “neraca lajur”. Neraca lajur ini berfungsi untuk memudahkan penyusunan laporan keuangan sekaligus untuk menghindari kemungkinan terjadinya kesalahan-kesalahan.
Langkah-langkah penyelesaian neraca lajur adalah sebagai berikut.
1. Menyusun neraca saldo yang bersumber dari data buku besar.
2. Mencatat pos-pos jurnal penyesuaian pada kolom penyesuaian (adjusment).
3. Menyusun neraca saldo yang telah disesuaikan dalam kolom neraca saldo yang telah disesuaikan.
4. Memindahkan saldo akun-akun pendapatan dan beban ke kolom ikhtisar laba rugi.
5. Memindahkan saldo akun-akun harta, utang, dan modal ke kolom neraca (balance sheet).
Untuk memudahkan penyusunan laporan keuangan koperasi, perlu disusun kertas kerja (work sheet) atau yang biasa disebut “neraca lajur”. Neraca lajur ini berfungsi untuk memudahkan penyusunan laporan keuangan sekaligus untuk menghindari kemungkinan terjadinya kesalahan-kesalahan.
Langkah-langkah penyelesaian neraca lajur adalah sebagai berikut.
1. Menyusun neraca saldo yang bersumber dari data buku besar.
2. Mencatat pos-pos jurnal penyesuaian pada kolom penyesuaian (adjusment).
3. Menyusun neraca saldo yang telah disesuaikan dalam kolom neraca saldo yang telah disesuaikan.
4. Memindahkan saldo akun-akun pendapatan dan beban ke kolom ikhtisar laba rugi.
5. Memindahkan saldo akun-akun harta, utang, dan modal ke kolom neraca (balance sheet).
Membuat jurnal penyesuaian
Membuat jurnal penyesuaian
Jurnal penyesuaian (Adjusting Journal Entries) adalah jurnal yang dibuat untuk menyesuaikan saldo akun-akun yang tidak menggambarkan sebenarnya. Banyak hal yang mengakibatkan saldo suatu akun pada akhir periode tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Hal ini disebabkan akuntansi menggunakan dasar waktu (accrual basic) sebagai dasar pencatatan dan perhitungan. Pada setiap akhir periode akuntansi terjadi kemungkinan adanya beban yang masih harus dibayar atau beban yang telah dibayar dimuka, adanya pendapatan yang masih harus diterima atau pendapatan yang diterima dimuka.
1. Beban yang masih harus dibayar (accrued expense)
adalah beban untuk suatu periode, tetapi sampai dengan akhir periode realisasi pembayarannya belum dilakukan sehingga belum dicatat sebagai beban.
2. Beban yang dibayar dimuka (diferred expense)
adalah pengeluaran yang sudah terjadi dalam suatu periode, tetapi merupakan beban periode yang akan datang.
3. Pendapatan yang masih harus diterima (accrued income)
adalah pendapatan yang sudah terjadi dan sudah bisa diakui tetapi belum dicatat.
4. Pendapatan yang diterima dimuka (differed income)
adalah pendapatan yang sudah diterima dalam suatu periode, tetapi merupakan pendapatan untuk periode yang akan datang.
Jurnal penyesuaian (Adjusting Journal Entries) adalah jurnal yang dibuat untuk menyesuaikan saldo akun-akun yang tidak menggambarkan sebenarnya. Banyak hal yang mengakibatkan saldo suatu akun pada akhir periode tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Hal ini disebabkan akuntansi menggunakan dasar waktu (accrual basic) sebagai dasar pencatatan dan perhitungan. Pada setiap akhir periode akuntansi terjadi kemungkinan adanya beban yang masih harus dibayar atau beban yang telah dibayar dimuka, adanya pendapatan yang masih harus diterima atau pendapatan yang diterima dimuka.
1. Beban yang masih harus dibayar (accrued expense)
adalah beban untuk suatu periode, tetapi sampai dengan akhir periode realisasi pembayarannya belum dilakukan sehingga belum dicatat sebagai beban.
2. Beban yang dibayar dimuka (diferred expense)
adalah pengeluaran yang sudah terjadi dalam suatu periode, tetapi merupakan beban periode yang akan datang.
3. Pendapatan yang masih harus diterima (accrued income)
adalah pendapatan yang sudah terjadi dan sudah bisa diakui tetapi belum dicatat.
4. Pendapatan yang diterima dimuka (differed income)
adalah pendapatan yang sudah diterima dalam suatu periode, tetapi merupakan pendapatan untuk periode yang akan datang.
Membuat neraca saldo
Membuat neraca saldo
Setelah semua jurnal diposting ke akun buku besar maka tahap selanjutnya adalah menyusun neraca saldo. Untuk buku besar yang menggunakan tiga kolom atau empat kolom langsung saja saldo akhir tiap-tiap akun dipindahkan ke neraca saldo.
Pembuatan neraca saldo tidaklah sulit, sama dengan Anda menyusun semua akun yang ada dalam akun buku besar berdasarkan urutan nomor kode akun beserta saldonya. Contoh bila Anda memposting akun kas, perhatikan contoh di bawah ini!
Demikian selanjutnya pada akun lainnya pada buku besar. Untuk lebih jelasnya perhatikan neraca saldo/sisa koperasi Insani pada akhir bulan Januari 2004.
Pada neraca saldo di atas, perhatikan total kolom debet dan kolom kredit! Ternyata totalnya sama yaitu Rp. 10.932.500. Bila tidak terjadi kesalahan pada saat pencatatan bukti transaksi di buku jurnal atau pada saat posting ke buku besar, maka total kolom debet akan sama (seimbang) dengan total kolom kredit.
Setelah semua jurnal diposting ke akun buku besar maka tahap selanjutnya adalah menyusun neraca saldo. Untuk buku besar yang menggunakan tiga kolom atau empat kolom langsung saja saldo akhir tiap-tiap akun dipindahkan ke neraca saldo.
Pembuatan neraca saldo tidaklah sulit, sama dengan Anda menyusun semua akun yang ada dalam akun buku besar berdasarkan urutan nomor kode akun beserta saldonya. Contoh bila Anda memposting akun kas, perhatikan contoh di bawah ini!
Demikian selanjutnya pada akun lainnya pada buku besar. Untuk lebih jelasnya perhatikan neraca saldo/sisa koperasi Insani pada akhir bulan Januari 2004.
Pada neraca saldo di atas, perhatikan total kolom debet dan kolom kredit! Ternyata totalnya sama yaitu Rp. 10.932.500. Bila tidak terjadi kesalahan pada saat pencatatan bukti transaksi di buku jurnal atau pada saat posting ke buku besar, maka total kolom debet akan sama (seimbang) dengan total kolom kredit.
Memindahbukukan (posting) dari jurnal ke buku besar
Pembuatan buku besar dilakukan setelah tahap pembuatan jurnal telah selesai dengan benar. Buku besar terdiri dari beberapa pos/bagian-bagian, misalkan buku besar kas adalah semua transaksi yang ada di jurnal kas, masuk semua ke dalam pos buku besar kas. Begitu juga untuk pos lainnya seperti buku besar simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan sukarela, buku besar hutang dagang, buku besar piutang dagang, dan buku besar lainnya.
1. Kode Akun Buku Besar.
Fungsi dari kode akun ini adalah untuk menyederhanakan pencatatan, mempermudah dalam menganalisis transaksi dan kejadian, mempermudah penyusunan neraca dan mempermudah dalam penyusunan perhitungan hasil usaha.
Struktur penggolongan akun dalam akuntansi koperasi dibagi menjadi 9, yaitu:
1. Golongan 1: Harta
2. Golongan 2: Utang
3. Golongan 3: Kekayaan bersih
4. Golongan 4: Pendapatan usaha
5. Golongan 5: Harga pokok penjualan
6. Golongan 6: Beban usaha
7. Golongan 7: Beban administrasi dan umum
8. Golongan 8: Pendapatan dan beban di luar usaha
9. Golongan 9: Pendapatan dan beban luar biasa.
Setiap nomor kode akun, memakai 4 angka dengan struktur penggolongan sebagai berikut.
1) Angka pertama, menunjukkan golongan akun
2) Angka kedua , menunjukkan kelompok akun
3) Angka ketiga, menunjukkan subkelompok akun
4) Angka keempat, menunjukkan nama atau jenis akun
a. Daftar nomor dan nama akun
1) Harta
10 Harta lancar
100 Uang kartal dan giral
10000 Kas
1000,00 Kas pusat
1000,01 Kas unit
101 Uang di bank
1010 bank….
1011 bank…
102 Simpanan jangka pendek
1020 simpanan sukarela di koperasi…
1021 simpanan…
103 Piutang usaha
1030 piutang anggota
1030.100 piutang SP….
1030.200 piutang barang
1031 piutang bukan anggota
1032 piutang…
1033 piutang lain-lain
104 Penyisihan piutang tak tertagih
1040 penyisihan piutang tak tertagih anggota
1041 penyisihan piutang tak tertagih bukan
anggota
105 Persediaan barang dagangan
1050 persediaan
1050.000 persediaan….
106 Persediaan barang untuk digunakan
1060 persediaan perlengkapan kantor
1061 persediaan perlengkapan toko
107 Beban dibayar dimuka
1070 sewa dibayar dimuka
1071 ….dibayar dimuka
108 Pendapatan masih harus diterima
1080 sewa masih harus diterima
1081 …masih harus diterima
11 Piutang jangka panjang
110 piutang jangka panjang
1100 piutang anggota
1101 piutang bukan anggota
12 Investasi jangka panjang
120 simpanan pada koperasi (pusat)
1200 simpanan pokok yang harus dibayar
1201 simpanan pokok belum dibayar
1202 simpanan wajib yang harus dibayar
1203 simpanan wajib yang belum dibayar
1204 simpanan khusus
121 simpanan pada bukan koperasi
1210 penyertaan PT…..
1211 penyertaan PT…..
13 Harta tetap
130 nilai perolehan
1300 tanah
1301 tanah tambang
1302 bangunan
1303 mesin
1304 peralatan
1305 kendaraan
1306 inventaris kantor
1307 sarana listrik
131 akumulasi penyusutan
1311 akumulasi deflasi tanah tambang
1312 akumulasi penyusutan bangunan
1313 akumulasi penyusutan mesin
1314 akumulasi penyusutan peralatan
1315 akumulasi penyusutan kendaraan
1316 akumulasi penyusutan inventaris kantor
1317 akumulasi penyusutan sarana listrik
14 Harta tak berwujud
140 nilai harta tak berwujud
1400 harta paten
1401 merek dagang
1402 hak pengusahaan hutan
1403 hak penambangan
141 amortisasi harta tak berwujud
1410 akumulasi amortisasi paten
1411 akumulasi amortisasi paten
1412 akumulasi amortisasi merek dagang
1413 akumulasi amortisasi hak pengusahaan
hutan
1414 akumulasi hak penambangan
15 Harta lain-lain
150 nilai perolehan
1500 tanah tidak produktif
1501 kendaraan rusak
1502 mesin rusak
2) Kewajiban/Utang
20 Kewajiban lancar
200 utang usaha
2000 utang anggota
2000.00 utang anggota……
201 utang pada bank
2010 utang bank….
2011 utang bank….
202 utang pada koperasi
2020 utang koperasi…..
2021 utang departemen koperasi
203 utang pada lembaga pemerintahan
2030 utang klaim perum PKK
2031 utang departemen koperasi
204 beban masih harus dibayar dan pendapatan
diterima dimuka
2040 beban masih harus dibayar
2041 utang pajak
2042 pendapatan diterima dimuka
21 Kewajiban jangka panjang
210 kewajiban jangka panjang
2100 utang anggota
2101 utang bukan anggota
2102 utang bank…
2104 simpanan sukarela anggota
2105 simpanan bukan anggota
3) Kekayaan bersih
3000 Simpanan pokok harus diterima
3001 Simpanan pokok belum diterima
3002 Simpanan wajib harus diterima
3003 Simpanan wajib belum diterima
3004 Donasi/hibah
3005 Cadangan koperasi
3013 Cadangan dana revolving
3014 SHU yang belum dibagi
3015 SHU tahun berjalan
3016 Selisih penilaian kembali harta tetap
4) Pendapatan usaha
400 penjualan barang
4000 penjualan
4000.00 penjualan X
4000.01 penjualan Y
4001 potongan penjualan
4002 retur penjualan anggota dan pengurangan
harga
410 pendapatan jasa
4100 pendapatan bunga simpan pinjam
4101 pendapatan jasa sewa
420 pendapatan lain-lain
4200 pendapatan lain-lain usaha
5) Harga pokok
500 pembelian barang dagang
5000 pembelian
5000.00 pembelian bahan makanan
5000.01 pembelian alat tulis kantor
5000.02 pembelian bahan sandang
5001 biaya angkut pembelian
5002 potongan pembelian
5003 retur pembelian dan pengurangan harga
510 harga pokok produksi
5100 bahan baku langsung
5101 tenaga kerja langsung
5102 bahan tidak langsung
5103 tenaga kerja tak langsung
5104 beban tak langsung
520 Harga pokok penjualan
5200 harga pokok penjualan
5200.00 harga pokok X
5200.01 harga pokok Y
6) Beban usaha
6000 beban gaji dan upah
6001 beban angkutan
6002 beban bongkar muat
6003 beban pembibitan
6004 beban bahan bakar
6008 beban promosi/iklan
6009 beban bunga
6010 beban komisi
6011 beban asuransi
6012 beban retribusi
6013 beban penyusutan
6014 beban piutang tak tertagih
6015 beban lain-lain
7) Beban adminsitrasi dan umum
7000 beban gaji dan honor
7001 beban kantor
7002 beban konsumsi
7003 beban perjalanan
7004 beban pemeliharaan harta tetap
7005 beban bahan bakar
7011 beban kesejahteraan
7012 beban rapat
7013 beban listrik, telepon dan Air
7014 beban pajak karyawan
7015 beban latihan
8) Pendapatan dan beban luar usaha
80 pendapatan luar usaha
8000 pendapatan jasa giro bank
8001 pendapatan kantor
8002 pendapatan jasa deposito
8003 keuntungan penjualan harta tetap
8005 keuntungan penjualan harta lain-lain
8006 keuntungan kenaikan valuta asing
8007 pendapatan subsidi.
81 beban luar usaha
8100 kerugian penjualan harta tetap
8101 kerugian penjualan harta tak berwujud
8102 kerugian penjualan harta lain-lain
9) Pendapatan dan beban luar biasa
90 pendapatan luar biasa
9000 ganti rugi asuransi
9001 pendapatan undian
91 beban luar biasa
9100 kerugian kebakaran
9101 kerugian gempa bumi
9102 kerugian pelebaran jalan
2. Bentuk Buku Besar
Bentuk akun buku besar dalam koperasi dapat dibuat dalam 3 macam bentuk yaitu:
a. Bentuk scronto, yang terdiri dari dua kolom yaitu debet dan kredit dan sering disebut juga dengan bentuk dua kolom (two column account).
b. Bentuk bersaldo dengan 3 kolom, yaitu debet, kredit, saldo dan sering disebut bentuk 3 kolom (three column account).
c. Bentuk bersaldo dengan 4 kolom, yaitu debet, kredit, saldo (debet, kredit) dan sering disebut bentuk 4 kolom (four column account). Bentuk ini paling banyak digunakan untuk akun buku besar dalam koperasi.
3. Posting Jurnal ke Buku Besar
Memposting jurnal ke dalam buku besar sama dengan posting pada perusahaan jasa atau perusahaan dagang. Ada beberapa langkah untuk memposting jurnal ke dalam buku besar, yaitu:
a. Pindahkan tanggal yang terdapat dalam jurnal ke kolom tanggal pada akun.
b. Pindahkan keterangan singkat yang terdapat pada kolom jurnal ke dalam keterangan pada akun.
c. Pindahkan halaman jurnal ke kolom ref di akun, bersama itu terdapat catatan nomor kode akun pada kolom ref jurnal.
d. Pindahkan jumlah debet dari jurnal ke kolom debet akun dan jumlah kredit jurnal ke kredit akun yang bersangkutan.
MENCATAT TRANSAKSI KEUANGAN DAN MODAL KOPERASI DALAM JURNAL UMUM ATAU JURNAL KHUSUS
Akuntansi dalam badan usaha koperasi dapat dilaksanakan seperti pada badan usaha lainnya. Hanya yang membedakan dalam akuntansi koperasi dengan akuntansi badan lainnya adalah adanya akun khusus seperti akun simpanan pokok, akun simpanan wajib, akun simpanan sukarela, akun sisa hasil usaha (SHU), akun cadangan dan sebagainya. Proses akuntansi dalam koperasi meliputi beberapa tahapan yaitu tahap pencatatan, tahap pengiikhtisaran dan penyusunan laporan keuangan.
Diagram siklus akuntansi
1. Bukti Pembukuan Koperasi
Pelaksanaan transaksi usaha koperasi harus selalu didukung oleh bukti-bukti transaksi yang sah. Bukti pembukuan merupakan suatu dokumen yang sangat penting dalam suatu transaksi pada badan usaha koperasi. Transaksi merupakan peristiwa ekonomi yang dapat mengubah harta, utang, dan modal yang berhubungan dengan pihak luar dari badan koperasi. Setiap pelaksanaan kegiatan koperasi berupa transaksi selalu didukung oleh bukti pembukuan yang lengkap.
Dalam akuntansi koperasi dikenal dua jenis bukti pembukuan yaitu bukti pembukuan internal (bukti yang dikeluarkan oleh koperasi) dan bukti pembukuan eksternal (bukti yang berasal dari luar koperasi). Untuk menjamin kelengkapan setiap pembukuan, maka harus dilakukan langkah sebagai berikut.
a. Tiap transaksi harus dibuat bukti pembukuan yang disahkan oleh yang berwenang.
b. Jika dalam transaksi tidak diperoleh bukti ekstern, koperasi harus membuat bukti intern yang disetujui oleh pihak yang berwenang.
c. Setiap pembukuan harus didasarkan pada sutu bukti pembukuan yang sah.
d. Semua bukti pembukuan harus disimpan secara teratur dan aman.
2. Penggolongan Bukti-bukti Transaksi
a. Bukti penerimaan kas
Bukti penerimaan kas (KM) digunakan untuk membukukan semua jenis transaksi yang menimbulkan penerimaan uang tunai ke dalam koperasi. Yang termasuk transaksi penerimaan kas yaitu:
1) Penjualan tunai
2) Pembayaran dari anggota yang berupa simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan sukarela
3) Angsuran kredit
4) Pembayaran utang dari para debitur
5) Penerimaan dari bank
6) Penerimaan komisi
7) Penerimaan bunga
8) Sumbangan tunai
Bukti penerimaan ataupun pengeluaran kas dibuat rangkap tiga. Lembar pertama untuk pembayar, lembar kedua untuk bagian pembukuan (akuntansi), dan lembar ketiga untuk arsip.
Contoh bukti penerimaan kas
b. Bukti pengeluaran kas
Bukti pengeluaran kas (KK) digunakan untuk mencatat transaksi yang mengakibatkan uang kas koperasi/bank berkurang akibat adanya pengeluaran uang tunai. Bukti ini dipergunakan untuk bukti transaksi:
1) Pembelian barang tunai
2) Pemberian kredit pada anggota
3) Pembayaran biaya-biaya
4) Pembayaran bunga bank
5) Pembayaran kembali simpanan anggota
6) Pembayaran angsuran
7) Pembayaran utang kepada debitur
Contoh bukti pengeluaran kas
c. Bukti pembelian (penerimaan barang )
Bukti pembelian (BB) digunakan untuk membukukan jenis transaksi pembelian barang atau jasa dari pihak luar koperasi secara kredit.
Contoh bukti pembelian
d. Bukti penjualan atau bukti pengeluaran barang
Bukti penjualan atau bukti pengeluaran barang (BJ) digunakan untuk membukukan jenis transaksi penjualan barang oleh koperasi kepada pihak ketiga (anggota atau bukan anggota).
Contoh bukti penjualan
e. Bukti umum
Bukti umum (BU) digunakan untuk membukukan transaksi-transaksi yang dapat tidak diklasifikasikan ke dalam empat bukti pembukuan di atas, misalnya :
1) Retur pembelian
2) Retur penjualan
3) Pemakaian bahan untuk dimaksukkan dalam proses
4) Kerusakan atau kehilangan barang
5) Penyusutan
6) Perbaikan/koreksi pembukuan donasi
Contoh bukti umum
Tugas Individu
1. Berdasarkan informasi dibawah ini, apakah dana bergulir ini merupakan modal untuk koperasi syariah?
2. Bagaimanakah pencatatan bantuan dana dari pemerintah ini?
Koperasi Syariah Dapat Dana Bergulir
Bantuan ini untuk menghindarkan pengusaha mikro dari jeratan rentenir. Kementerian koperasi kembali menyediakan dana bergulir sebesar Rp 15 miliar untuk koperasi yang menggunakan prinsip islami. Dana sebesar itu berasal dari APBN 2005 dan diperuntukkan bagi 300 koperasi syariah di 26 provinsi di Indonesia.
Dana tersebut bisa digunakan untuk modal kerja koperasi syariah agar bisa meningkatkan pelayanan kepada unit usaha mikro dan kecil. ‘’Masyarakat kita banyak yang terjerat jasa keuangan yang ribawi,’’ kata Ai Darukiah, asisten Deputi Menteri Koperasi Bidang Pengembangan dan Pengendalian Simpan Pinjam di Jakarta kemarin (21/2).
Menurut Ai, pedagang kecil atau pengusaha mikro di pelosok daerah dan juga pinggiran ibu kota banyak terjerat rentenir dengan bunga berlipat ganda. Dengan bantuan modal kerja diharapkan masyarakat bisa terbebas dari jeratan rentenir dan sebaliknya mengikuti transaksi keuangan sesuai syariah.
Dari dana bergulir ini, jelas Ai, setiap anggota koperasi syariah bisa memperoleh dana modal maksimal Rp 2 juta. Modal yang disertakan pada setiap koperasi masing-masing Rp 50 juta. ‘’Untuk pencairan ada syaratnya,’’ tandas Ai. Satu syarat utama adalah koperasi itu sudah berbadan hukum dan menjalankan prinsip syariah sepenuhnya. Untuk mengontrol ini, Kementerian Koperasi dan UKM bekerja sama dengan bank syariah.
Data pada Kementerian Koperasi menunjukkan bahwa koperasi syariah berjumlah 2.700-an. Koperasi ini berasal dari BMT yang memilih badan hukum koperasi syariah. Berapa jumlah persisnya, Ai mengatakan masih didata ulang. Setelah otonomi daerah bisa jadi jumlahnya bertambah atau malah berkurang.
Kerja sama dengan bank syariah, menurut Ai, penting untuk menghindari adanya koperasi atau UKM fiktif. Bank syariah juga bertanggung jawab membina personal atau SDM koperasi syariah terutama dalam mengontrol dana bergulir. ‘’Ini memang dana dari APBN. Tapi, harus tetap dikembalikan untuk digulirkan kepada koperasi lainnya,’’ katanya.
Masa program dana bergulir ini sepuluh tahun. Program dana bergulir untuk koperasi syariah ini sebetulnya bukan yang pertama. Pada tahun 2002, Kementerian Koperasi sudah mulai melakukan percobaan dengan mengalokasikan dana Rp 1,3 miliar untuk 26 koperasi syariah. Kemudian, pada 2004 kembali mengalokasikan dana dengan jumlah lebih besar atau mencapai Rp 5 miliar untuk seratus koperasi di 18 provinsi.
(sumber: kompas 22 Februari 2005)
3. Pencatatan Hasil Analisa Bukti Transaksi dalam Jurnal Khusus dan Jurnal Umum.
Setelah bukti pembukuan ini dianalisis dan sudah diyakini kebenarannya, maka hasil analisis dicatat/dipindahkan ke dalam jurnal khusus (special journal) dan jurnal umum (general journal).
Dalam akuntansi koperasi digunakan 5 jenis jurnal yang terdiri dari 4 jurnal khusus yaitu jurnal penerimaan kas, jurnal pengeluaran kas, jurnal pembelian dan jurnal penjualan, jurnal yang ke-5 adalah jurnal umum. Jurnal khusus digunakan dalam akuntansi koperasi bertujuan untuk mengefektifkan pencatatan akun-akun yang sering terjadi dalam kegiatan pembukuan koperasi.
a. Jurnal penerimaan kas
Jurnal ini digunakan untuk mencatat hasil analisis bukti penerimaan kas (KM).
Di bawah ini adalah contoh pencatatan pada jurnal penerimaan kas dari bukti analisis koperasi Insani.
b. Jurnal pengeluaran kas
Jurnal pengeluaran kas digunakan untuk mencatat hasil analisis bukti pengeluaran kas (KK). Contoh jurnal pengeluaran kas pada koperasi Insani adalah sebagai berikut.
c. Jurnal pembelian
Jurnal pembelian digunakan untuk mencatat hasil analisis bukti pembelian (BB).
d. Jurnal penjualan
Jurnal penjualan digunakan untuk mencatat hasil analisis bukti penjualan (BJ).
e. Jurnal umum
Jurnal umum atau buku harian memorial digunakan untuk mencatat hasil analisis bukti umum yang berasal dari transaksi sebagai berikut.
1) Penerimaan modal donasi yang berupa aktiva tetap
2) Retur pembelian kredit
3) Retur penjualan kredit
4) Pengambilan barang konsumsi untuk kepentingan koperasi sediri
5) Koreksi kesalahan pencatatan
6) Penyesuaian akhir periode akuntansi
7) Penutupan pada akhir periode akuntansi
8) Pembalikan pada awal periode akuntansi
Contoh jurnal umum koperasi Insani
Untuk lebih memahami pencatatan bukti transaksi pada jurnal, di bawah ini adalah contoh pembuatan jurnal koperasi Insani.
(a) Pada 7 Januari 2004, diterima pembayaran dari 35 anggota dengan bukti transaksi (KM.01) sebagai berikut.
• Simpanan pokok sebesar : Rp. 1.400.000,00
• Simpanan wajib sebesar : Rp. 700.000,00
Bukti transaksi yang diperlukan adalah bukti penerimaan kas.
Analisa transaksi:
Akun kas bertambah (D), akun simpanan pokok bertambah (K), dan akun simpanan wajib bertambah (K).
Jurnal
7 Januari 2004 Kas : Rp. 2.100.000,00
• Simpanan pokok : Rp. 1.400.000,00
• Simpanan wajib : Rp. 700.000,00
(b) Pada 9 Januari 2004, dibeli perlengkapan kantor dan peralatan kantor, masing-masing sebesar Rp. 150.000,00 dan Rp. 250.000, 00 dengan tunai (No. Bukti: KK.01). Bukti transaksi yang diperlukan adalah bukti pengeluaran kas.
Analisa transaksi:
Akun perlengkapan kantor (D) dan akun peralatan kantor (D) bertambah, akun kas berkurang (K)
Jurnal
9 Januari 2004
Perlengkapan kantor : Rp. 150.000,00
Peralatan kantor : Rp. 250.000,00
Kas : Rp. 400.000,00
(c) Pada 10 Januari 2004 diterima simpanan sukarela dari anggota sebesar Rp. 1.200.000,00 (No. Bukti: KM.02). Bukti transaksi yang diperlukan adalah bukti penerimaan Kas.
Analisa transaksi:
Akun kas bertambah (D) dan dan akun simpanan sukarela bertambah (K)
Jurnal
10 Januari 2004 Kas : Rp. 1.200.000,00
Simpanan Sukarela : Rp. 1.200.000,00
(d) Pada 11 Januari 2004 , dibeli barang dagangan dengan kredit dari UD Sumber Makmur seharga Rp. 3.750.000,00 dengan nomor bukti BB.01. Bukti tansaksi yang diperlukan adalah bukti pembelian.
Analisa Transaksi:
Akun pembelian bertambah (D) dan akun utang usaha bertambah (K)
Jurnal
11 Januari 2004
Pembelian : Rp. 3.750.000,00
Utang pada bukan anggota : Rp. 3.750.000,00
(e) Pada 14 Januari 2004, dijual barang dagangan kepada CV Agnia seharga Rp. 2.970.000,00. Sebesar Rp. 500.000, 00 dibayar tunai sisanya kredit.nomor bukti KM.03 dan BJ.01.
Bukti transaksi yang diperlukan adalah bukti penerimaan kas dan bukti penjualan.
Analisa Transaksi:
Kas bertambah (D), piutang bukan anggota bertambah (D) dan penjualan bukan anggota bertambah (K)
Jurnal
14 Januari 2004 Kas : Rp. 500.000,00
Piutang bukan anggota : Rp. 2.470.000,00
Penjualan bukan anggota : Rp. 2.970.000,00
(f) Pada 14 Januari 2004, dipinjamkan sejumlah uang kepada anggota sebesar Rp. 500.000,00 dengan nomor bukti KK.02.
Bukti transaksi yang diperlukan adalah bukti pengeluaran kas.
Analisa Transaksi:
Akun piutang bertambah (D) dan akun kas berkurang (K)
Jurnal
14 januari 2004
Piutang anggota Rp. 500.000,00
Kas Rp. 500.000,00
(g) Pada 16 januari 2004 dibayarkan beban telepon dan listrik sebesar Rp. 175.000,00. dengan nomor bukti KK.03.
Bukti transaksi yang diperlukan adalah bukti pengeluaran kas.
Analisa Transaksi:
Beban telpon dan listrik bertambah (D) dan akun kas berkurang (K)
Jurnal
16 Januari 2004
Beban telpon dan listrik Rp.175.000,00
Kas Rp. 175.000,00
(h) Pada 17 Januari 2004, diterima per kas atas penjualan barang dagangan seharga Rp. 300.000,00 dengan nomor bukti KM.04.
Bukti transaksi yang diperlukan adalah bukti penerimaan kas.
Analisa Transaksi:
Akun kas bertambah (D) dan akun penjualan bertambah (K)
Jurnal
17 januari 2004 Kas Rp. 1.300.000,00
Penjualan Rp. 1.300.000,00
(i) Pada 17 januari 2004 diterima simpanan sukarela dari anggota sebesar Rp. 600.000,00 dengan nomor bukti KM.05.
Bukti transaksi yang diperlukan adalah bukti penerimaan kas.
Analisa Transaksi:
Akun kas bertambah (D) dan dan akun simpanan sukarela bertambah (K)
Jurnal
17 januari 2004 Kas Rp. 600.000,00
Simpanan Sukarela Rp. 600.000,00
(j) Pada 20 Januari 2004 , dilunasi sebagian utang sebesar Rp. 3.750.000,00 kepada UD Sumber Makmur atas pembelian barang tanggal 11 Januari 2004, dengan bukti nomor KK.04.
Bukti transaksi yang diperlukan adalah bukti pengeluaran kas
Analisa Transaksi
Akun utang berkurang (D) dan akun kas (K) berkurang
Jurnal
20 januari 2004
Utang pada bukan anggota Rp. 3.750.000,00
Kas Rp. 3.750.000,00
(k) Pada 21 januari 2004 , dibeli barang dagangan dengan tunai dari UD Sumber Makmur seharga Rp. 600.000,00, dengan nomor bukti KK.05.
Bukti transaksi yang diperlukan adalah bukti pengeluaran kas.
Analisa Transaksi:
Akun pembelian bertambah (D) dan akun kas berkurang (K)
Jurnal
21 januari 2004
Pembelian Rp. 600.000,00
Kas Rp. 600.000,00
(l) Pada 22 januari 2004, diserahkan uang kepada anggota sebagai biaya pemeliharaan sebesar Rp. 85.000,00 dengan nomor bukti KK.06.
Bukti transaksi yang diperlukan adalah bukti pengeluaran kas.
Analisa Transaksi:
Akun beban pemeliharaan bertambah (D) dan akun kas berkurang (K)
Jurnal
22 januari 2004
Beban pemeliharaan Rp. 85.000,00
Kas Rp. 85.000,00
(m) Pada 24 Januari 2004, diterima pelunasan sebagian piutang anggota nominal Rp. 400.000,00 beserta bunga sebesar 12.500,00. dengan nomor bukti KM.05.
Bukti transaksi yang diperlukan adalah bukti penerimaan kas.
Analisa Transaksi:
Akun kas bertambah (D), akun piutang berkurang (K), dan akun pendapatan bunga
bertambah (K)
Jurnal
24 Januari 2004 Kas Rp. 412.500,00
Piutang pada anggota Rp. 400.000,00
Pendapatan bunga Rp. 12.500,00
(n) Pada 25 Januari 2004 diterima sumbangan dari Pemda sebesar Rp. 1.500.000,00 untuk menambah modal kerja koperasi, dengan nomor bukti KM.06.
Bukti transaksi yang diperlukan adalah bukti penerimaan kas.
Analisa Transaksi:
Modal bertambah (D) dan kas berkurang (K)
Jurnal
25 Januari 2004 Kas Rp. 1.500.000,00
Modal donasi Rp. 1.500.000,00
(o) Pada 27 Januari 2004 diterima penjualan per kas atas penjualan barang dagangan sebesar Rp. 1.250.000,00 . dengan nomor bukti KM.07.
Bukti transaksi yang diperlukan adalah penerimaan kas.
Analisa Transaksi:
Kas bertambah (D) dan akun penjualan bertambah (K)
Jurnal
27 Januari 2004 Kas Rp. 1.250.000,00
Penjualan Rp. 1.250.000,00
(p) Pada 29 Januari 2004 dikeluarkan per kas biaya konsumsi rapat pengurus sebesar Rp. 50.000,00 dengan nomor bukti KK.07.
Bukti transaksi yang diperlukan adalah bukti pengeluaran kas.
Analisa Transaksi:
Akun beban kunsumsi bertambah (D) dan akun kas berkurang (K)
Jurnal
29 Januari 2004
Beban konsumsi Rp. 50.000,00
Kas Rp. 25.000,00
(q) Pada 30 Januari 2004 dibayar gaji seorang pegawai koperasi sebesar Rp. 250.000,00 dengan nomor bukti KK.08.
Bukti transaksi yang diperlukan adalah bukti pengeluaran kas.
Analisa Transaksi:
Beban gaji bertambah (D) dan kas berkurang (K)
Jurnal
30 Januari 2002
Beban gaji Rp. 250.000,00
Kas Rp. 250.000,00
(r) Pada 31 Januari 2004 dibeli barang dagangan dengan tunai dari UD Sumber Makmur seharga Rp. 750.000,00 dengan nomor bukti KK.09.
Bukti transaksi yang diperlukan adalah bukti pengeluaran kas.
Analisa Transaksi:
Akun pembelian bertambah (D) dan akun kas berkurang (K)
Jurnal
31 Januari 2004
Pembelian Rp. 750.000,00
Kas Rp. 750.000,00
Subscribe to:
Posts (Atom)