Thursday, 3 November 2016

Laporan laba rugi bank




Laporan laba rugi bank disusun mengacu pada Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 31 tentang Akuntansi Perbankan.
Laporan laba rugi bank memuat informasi mengenai pendapatan dan beban baik yang diperoleh dari kegiatan utama bank, maupun dari kegiatan lainnya. Pendapatan dan beban disusun dalam bentuk berjenjang (multiple step), dengan membedakan antara pendapatan dan beban yang berasal dari kegiatan operasional dengan pendapatan dan beban yang berasal dari kegiatan non operasional.
Pendapatan yang berasal dari kegiatan utama bank terdiri dari :
1.      Pendapatan  bunga. Termasuk ke dalam pendapatan bunga, yaitu :
a.       Bunga yang diperoleh. Dihitung secara akrual atau menurut dasar waktu (accrual basis), kecuali bunga untuk tagihan yang dinyatakan tidak lancar atau macet (aktiva produktif non performing). Bunga atas tagihan tersebut baru dapat diakui sebagai pendapatan bunga, jika sudah benar-benar diterima.
b.      Provisi dan komisi yang berkaitan langsung dengan pemberian kredit.
2.      Provisi dan komisi yang diterima dan tidak berhubungan langsung dengan pemberian kredit, misalnya komisi transfer, komisi inkaso, provisi bank garansi dan sebagainya.
Beban yang berasal dari kegiatan utama bank (beban operasional), terdiri atas :
1.      Beban bunga. Termasuk ke dalam kelompok beban bunga, yaitu :
a.       Bunga yang dibayar. Diakui secara akrual (accrual basis).
b.      Hadiah dalam rangka menghimpun dana.
c.       Provisi dan komisi yang dibayar untuk mendapatkan dana.
2.      Provisi dan komisi yang dibayar selain untuk penerimaan dana.
3.      Beban overhead :
a.       Beban umum dan administrasi
b.      Beban personalia
c.       Beban overhead lain-lain
Pendapatan dan beban yang berasal dari kegiatan lain (non operasional) :
1.      Pendapatan non operasional, antara lain terdiri atas :
a.       Keuntungan dari penjualan aktiva tetap
b.      Pendapatan dividen
c.       Laba penjualan surat berharga (investasi jangka pendek)
d.      Pendapatan sewa Safe Deposit Box (SDB)
2.      Beban non operasional, antara lain terdiri atas :
a.       Kerugian dari penjualan aktiva tetap
b.      Rugi penjualan surat berharga
c.       Penurunan nilai surat berharga
d.      Denda atau sanksi

Tujuan dan Proses Akuntansi Umum



Tujuan Akuntansi Umum
Tujuan akuntansi umum pada dasarnya adalah menyediakan informasi ekonomis dalam bentuk laporan keuangan, untuk dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang memerlukan informasi tersebut.
            Laporan keuangan biasanya disajikan dalam bentuk :
a.       Neraca atau daftar posisi keuangan perusahaan. Daftar tersebut memuat mengenai susunan aktiva, kewajiban dan modal perusahaan pada suatu saat tertentu.
b.      Laporan laba rugi. Memuat daftar pendapatan dan beban untuk suatu periode tertentu. Laporan laba-rugi dilengkapi dengan laporan perubahan modal atau laporan laba yang ditahan.
c.       Laporan perubahan posisi keuangan. Laporan ini disebut juga laporan sumber dan penggunaan dana. Dengan demikian laporan tersebut berisi informasi mengenai sumber dari mana dana diperoleh dan ke mana dana digunakan.

3. Proses Akuntansi Umum
            Rangkaian kegiatan akuntansi dalam mencapai tujuannya yaitu menyediakan laporan keuangan, dikenal dengan sebutan siklus akuntansi (accounting cycle). Kegiatan tersebut pada garis besarnya meliputi :
a.       Pencatatan dokumen transaksi ke dalam jurnal.
b.      Pemindahbukuan (posting) data jurnal ke buku besar.
c.       Penyusunan laporan keuangan.
Prosedur pelaksanaan kegiatan akuntansi dapat digambarkan sebagai berikut :


 





Pengertian Akuntansi Umum




            Dipandang dari sudut fungsi dan kegiatannya, Akuntansi Umum (General Accounting) atau Akuntansi Keuangan (Financial Accounting) diartikan sebagai “proses identifikasi, pengukuran dan komunikasi informasi ekonomis untuk memungkinkan para pemakai informasi membuat pertimbangan-pertimbangan dan mengambil keputusan yang tepat dan jelas “
            Dalam artian sempit atau dipandang dari sudut kegiatannya, akuntansi merupakan suatu proses yang meliputi pencatatan, penggolongan, pengikhtisaran dan pelaporan transaksi keuangan yang terjadi dalam perusahaan. Kedua pengertian tersebut, dapat dijabarkan sebagai berikut :
a.       Obyek atau sasaran akuntansi umum adalah transaksi perusahaan yang bersifat finansial, atau akibatnya dapat diukur dengan satuan uang.
b.      Produk (hasil) akhir dari proses akuntansi umum adalah informasi ekonomis, berupa ikhtisar transaksi keuangan perusahaan yang disusun dalam bentuk laporan keuangan (finansial statement).
c.       Laporan keuangan sebagai produk akhir dari proses akuntansi, oleh pihak-pihak yang berkepentingan dianalisis serta ditafsirkan pengaruhnya terhadap kegiatan perusahaan.
d.      Hasil analisis laporan keuangan, digunakan oleh pihak intern maupun pihak-pihak ekstern perusahaan sebagai bahan pembuatan pertimbangan-pertimbangan untuk pengambilan keputusan.

Tuesday, 25 October 2016

Menyusun laporan keuangan



Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari suatu proses akuntansi. Di dalam laporan keuangan terdapat ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan. Dari laporan keuangan ini diperoleh informasi-informasi yang sangat berguna bagi pihak-pihak pengambil keputusan atau pimpinan perusahaan. Pada setiap laporan keuangan harus dicantumkan nama perusahaan, nama laporan, dan tanggal atau jangka waktunya. Laporan keuangan sebuah perusahaan perorangan terdiri dari:

1.     Neraca (Balance Sheet)
Neraca adalah suatu daftar yang berisi ringkasan harta, kewajiban, dan modal dari satu kesatuan perusahaan pada saat tertentu yang umumnya ditutup pada hari terakhir dari setiap periode. Dari pengertian ini, jelaslah bahwa neraca menggambarkan besar kecilnya assets, liabilities dan owner’s equity perusahaan pada suatu saat tertentu, yaitu pada saat neraca itu disusun. Jadi, angka-angka yang tercantum di dalamnya hanya berlaku pada hari dan tanggal yang tertera pada neraca tersebut. Pada hari dan tanggal yang berbeda, angka-angkanya akan berbeda pula. Hal ini disebabkan kegiatan-kegiatan usaha perusahaan akan menimbulkan berbagai transaksi sehingga mengakibatkan perubahan-perubahan terhadap komposisi harta, kewajiban, dan modal.
Pada umumnya, neraca dapat disusun dalam dua bentuk, yaitubentuk skontro dan laporan (report form).

a.     Bentuk skontro
Dalam neraca bentuk skontro, harta perusahaan disusun di sebelah kiri, hutang dan modal disusun di sebelah kanan. Pada bagian atas ditulis nama perusahaan dan periode laporan neraca. Contoh Neraca Central Komputer berikut ini.

b.    Bentuk laporan (Report form)
Dalam neraca bentuk ini, harta, hutang, dan modal disusun berurutan ke bawah. Contoh Neraca Central Komputer berikut ini.

2.     Perhitungan Rugi Laba (Income Statement)
Laporan rugi laba atau income statement adalah satu daftar yang berisikan ringkasan dari hasil-hasil yang diterima perusahaan (revenue) dan biaya-biaya yang dikeluarkan (expenses) untuk mendapatkan hasil tersebut serta pengaruhnya terhadap modal perusahaan dalam jangka waktu pembukuan tertentu. Jangka waktu pembukuan biasanya adalah satu tahun, yang dimulai sejak tanggal 1 Januari dan berakhir pada tanggal 31 Desember. Dengan membandingkan antara revenues dengan expenses, dapat diketahui berapa besar rugi atau laba perusahaan. Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa income statement terdiri dari dua unsur, yaitu pendapatan (revenues) dan beban (expenses).
Susunan atau format income statement yang biasa digunakan adalah:
a.    Bentuk single step
    Dalam penyusunan laporan rugi laba bentuk single step, pendapatan usaha dan pendapatan dari luar usaha disusun dalam satu kelompok. Bebanusaha, beban di luar usaha, dan laba atau rugi bersih dihitung dengan cara mengurangi total pendapatan dengan total beban.
b.    Bentuk multiple step
    Dalam penyusunan laporan rugi laba bentuk multiple step, penyusunan pendapatan maupun beban dipisah secara rinci antara pendapatan beban usaha dengan pendapatan dan beban di luar usaha. Contoh Laporan Laba Rugi Central Komputer berikut ini.

3.     Laporan Perubahan Modal (Statement of Owners Equity/Capital Statement)
Dalam laporan perubahan modal, modal pemilik akan berubah pada awal periode akibat adanya laba atau rugi serta pengambilan pribadi pemilik dalam periode tersebut. Adanya perubahan pada modal pemilik dan sumber-sumber mengakibatkan perubahan modal yang disusun dalam bentuk laporan perubahan modal atau capital statement. Dari laporan perubahanmodal ini diperoleh informasi tentang modal awal, perubahan modal selama tahun berjalan, dan modal akhir tahun.
Sebagai contoh, kita ambil Laporan Perubahan Modal Central Komputer di bawah ini.

4.     Laporan Arus Kas
Laporan arus kas merupakan laporan yang menggambarkan perubahan kas selama satu periode akuntansi. Berdasarkan laporan arus kas, dapat diketahui sumber dan penggunaaan kas. Laporan arus kas dapat disusun dengan membandingkan neraca dua periode.

Jurnal penutup


Jurnal penutup adalah ayat jurnal yang dibuat pada akhir periode akuntansi yang bertujuan untuk menutup akun nominal (pendapatan dan beban). Selama proses akuntansi berjalan, seluruh akun nominal (pendapatan dan beban) digunakan sebagai akun untuk mengklasifikasikan dan mengikhtisarkan akun modal. Pada akhir periode akuntansi, seluruh akun nominal tersebut harus dinolkan. Saldo akun tersebut akan dipindahkan ke akun ikhtisar laba-rugi dan selanjutnya saldo akun ini dipindahkan ke akun modal.
Cara menyusun jurnal penutup:
1.    Mengkredit setiap akun beban sebesar saldonya dan mendebet akun ikhtisar laba-rugi dengan jumlah yang sama, sehingga akun beban menjadi nol (tidak bersaldo),
2.    Mendebet akun pendapatan sebesar saldonya dan mengkredit akun ikhtisar laba-rugi dengan jumlah yang sama sehingga akun pendapatan menjadi tidak bersaldo,
3.    Memindahkan saldo akun ikhtisar laba-rugi ke akun modal. Saldo akun ikhtisar laba-rugi didapat dengan cara membandingkan jumlah debet dan kredit akun yang bersangkutan. Jika jumlah kredit lebih besar dari jumlah debet, maka saldo laba tersebut dipindahkan ke akun modal sebelah kredit dan akun ikhtisar laba-rugi menjadi nol, begitu pula sebaliknya,
4.    Mengkredit akun prive sebesar saldonya dan mendebet akun modal dengan jumlah yang sama sehingga akun prive menjadi tidak bersaldo.

Kertas kerja (work sheet)

Kertas kerja (work sheet)

Kertas kerja/neraca lajur (work sheet) adalah daftar berkolom yang digunakan sebagai kertas kerja dalam penyusunan laporan keuangan. Penggunaan neraca lajur dapat mengurangi kesalahan yang mungkin terjadi. Dari uraian di atas, jelaslah bahwa kertas kerja merupakan media atau alat untuk mempermudah penyusunan laporan keuangan. Dalampraktek dewasa ini, kertas kerja sudah jarang digunakan terutama bagi perusahaan yang telah menggunakaan pembukuan secara komputer akuntansi.

1.     Bentuk Kertas Kerja
Pada umumnya, kertas kerja yang digunakan dapat berbentuk 6 kolom, 8 kolom, 10 kolom, dan 12 kolom. Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah contoh-contoh bagan berikut.

Jumlah kolom dalam neraca lajur biasanya disesuaikan dengankebutuhan perusahaan. Untuk usaha-usaha jasa, biasanya dibuat neraca lajur dengan bentuk sebagai berikut.

Kolom “Nomor” akun diisi dengan nomor akun dari masing masing akun sesuai dengan kode masing-masing akun.
Kolom “Akun” diisi nama-nama akun yang ada dalam buku besar, kolom neraca saldo berisi masing-masing akun. Saldo debet diletakkan di kolom debet, saldo kredit diletakkan di kolom kredit. Jumlah kolom debet dan kredit harus sama.
Kolom “Penyesuaian” diisi dengan jumlah penyesuaian yang ada, mungkin di sebelah debet mungkin juga disebelah kredit. Jumlah debet dan kredit harus sama.
Kolom “Neraca saldo disesuaikan” berisi jumlah-jumlah yang berasal dari kolom neraca saldo ditambah atau dikurangi dengan jumlah-jumlah dalam kolom penyesuaian. Jumlah debet dan kredit dalam kolom ini harus sama.
Kolom “Rugi laba” diisi dengan jumlah semua akun nominal yang berasal dari neraca saldo yang disesuaikan. Selisih antara jumlah debet dan kredit merupakan laba atau rugi untuk periode yang berangkutan. Apabila jumlah kredit lebih besar dari jumlah debet, maka selisihnya adalah laba dan sebaliknya.
Kolom “Neraca” berisi semua jumlah akun rill yang berasal dari kolom neraca saldo disesuiakan. Selisih jumlah debet dan kredit sama dengan selisih dalam kolom rugi laba. Apabila kolom rugi laba jumlah kreditnya dari kolom debet, maka dalam kolom neraca jumlah kolom debet akan lebih besar daripada jumlah kolom kredit dan sebaliknya.
Jadi, secara ringkas ada beberapa langkah yang digunakan dalam penyusunan neraca lajur, yaitu:
1.    Menyusun neraca saldo dengan sumber dari buku besar,
2.    Mencatat pos-pos jurnal penyesuaian pada kolom penyesuaian,
3.    Menyusun neraca saldo yang telah disesuaikan dalam kolom neraca saldo disesuaikan,
4.    Memindahkan saldo akun-akun pendapatan dan beban (akun nominal) ke kolom rugi laba,
5.    Memindahkan saldo akun-akun harta, hutang, dan modal (akun rill) ke kolom neraca (balance sheet).

Jurnal penyesuaian

Jurnal penyesuaian

Pembuatan jurnal penyesuaian adalah untuk mengkoreksi akun-akun tertentu sehingga mencerminkan keadaan aktiva, kewajiban, biaya, pendapatan, dan modal yang sebenarnya. Ada dua macam keadaan jurnal penyesuaian (adjustment) perlu dibuat, yaitu:
1.    Keadaan ketika suatu transaksi telah terjadi, tetapi belum dicatat dalam akun. Misalnya biaya gaji yang terjadi antara hari pembayaran terakhir dan tanggal laporan keuangan.
2.    Keadaan ketika suatu transaksi telah dicatat dalam akun, tetapi saldonya perlu dikoreksi untuk mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Misalnya perlengkapan yang telah dibeli dan dicatat dalam akun aktiva.

Pada akhir periode, sebagian dari perlengkapan sudah dipakai dalam kegiatan perusahaan. Dalam keadaan demikian, suatu ayat jurnal penyesuaian akan membuat saldo akun aktiva mencerminkan keadaan yang sebenarnya.
Penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan dalam jurnal penyesuaian pada akhir periode dilakukan pada elemen-elemen sebagai berikut

1.     Biaya dibayar di muka (Diferred expense)
Biaya yang dibayar di muka maksudnya adalah biaya-biaya yang sudah dibayar, tetapi belum dibebankan sebagai biaya pada periode itu. Biaya dibayar di muka ini sering timbul apabila perusahaan membayar biaya-biaya untuk beberapa periode sekaligus sehingga dari jumlah pengeluaran tersebut sebagian akan menjadi beban periode itu dan sebagian lagi akan dibebankan pada periode mendatang. Pada waktu terjadinya pengeluaran kas, pencatatan bisa dilakukan dengan mendebet rekening biaya atau rekening aktiva. Oleh karena tidak semua pengeluaran itu menjadi biaya, maka perlu diadakan penyesuaian agar sebagian pengeluaran tersebut bisa dibebankan sebagai biaya dan sebagian lagi merupakan aktiva yaitu biaya dibayar di muka. Jurnal penyesuaian yang dibuat untuk biaya dibayar di muka akan tergantung kepada akun yang digunakan untuk mencatat pengeluaran biaya tersebut.

Contoh:
Tanggal 1 Agustus 2004, perusahaan membayar sewa kantor Rp.2.400.000,00 untuk satu tahun terhitung mulai bulan Agustus 2004. Maka, beban sewa tahun 2004 adalah

Sisanya sebesar Rp.1.400.000,00 akan menjadi beban sewa pada tahun 2005 walaupun telah dibayarkan di tahun 2004. Oleh sebab itu, pada akhir tahun tanggal 31 Desember 2004 terdapat “sewa dibayar dimuka” sebesar Rp.1.400.000,00.
Untuk mencatat transaksi pembayaran sewa ini ada dua kemungkinan, yaitu:
a.    Bila dicatat sebagai harta, pembayaran sewa sebesar Rp.2.400.000,00, dicatat debet pada akun “Sewa dibayar di muka” dan kredit pada akun “Kas”. Maka, akun yang digunakan dalam buku besardan tentu akan muncul dalam neraca saldo adalah “Sewa dibayar di muka”. Akhir periode akuntansi (31 Desember), akun tersebut menunjukkan saldo debet Rp.2.400.000,00. Dari jumlah tersebut sebenarnya sudah menjadi beban sewa sebesar Rp.1.000.000,00 yaitu dengan jurnal penyesuaian sebgai berikut.

    Dalam buku besar setelah posting jurnal penyesuaian di atas, akan tampak sebagai berikut.

b.    Bila dicatat sebagai beban, pembayaran untuk sewa sebesar Rp.2.400.000,00 dicatat debet pada akun “beban sewa” dan kredit akun “Kas”. Maka, akun yang digunakan dalam buku besar adalah akun “Beban Sewa”. Pada tanggal 31 Desember 2004, akun “beban sewa” menunjukkan saldo debet Rp.2.400.000,00. Dalam jumlah ini, yang sebenarnya terjadi beban sewa tahun 2004 adalah sebesar Rp.1.000.000,00. Selebihnya sebesar Rp.1.400.000,00, belum menjadi beban sewa atau pada tanggal 31 Desember 2004, merupakan panjar sewa. Oleh sebab itu, jumlah tersebut harus dipindahkan dari akun “Beban Sewa” ke akun “Sewa Dibayar Di muka” dengan jurnal penyesuaian sebagai berikut.

Dalam buku besar setelah posting jurnal penyesuaian di atas, akan tampak sebagai berikut.

2.     Biaya yang Masih akan Dibayar (Accured Expense)
Biaya yang masih akan dibayar adalah biaya-biaya yang sudah terjadi, tetapi belum dibayar dan belum dicatat dalam akun-akun. Oleh sebab itu, setiap akhir periode harus dibuat penyesuaian agar biaya-biaya seperti itu dapat dibebankan dalam periode yang bersangkutan. Misalnya pada tanggal 31 Agustus 2004 terdapat gaji pegawai yang belum dibayar sebesar Rp.400.000. Jumlah tersebut telah menjadi beban gaji untuk tahun 2004, tetapi belum dicatat karena belum dibayar sehingga menjadi hutang tahun 2005. Oleh sebab itu, saldo akun ”beban gaji” dalam buku besar (neraca saldo) harus disesuaikan dengan jurnal penyesuaian sebagai berikut.

3.     Pendapatan yang Diterima di Muka (Diferred Income)
Pendapatan yang diterima di muka maksudnya adalah penerimaan dari pendapatan, tetapi bukan merupakan pendapatan untuk periode tersebut atau dengan kata lain merupakan pendapatan periode yang akan datang yang diterima dalam periode sekarang. Oleh sebab itu, penerimaan itu tidak dapat diakui sebagai pendapatan periode sekarang.

Contohnya:
Pada tanggal 1 Oktober 2004 diterima uang sewa sebesar Rp.900.000,- untuk jangka waktu satu tahun dimulai pada tanggal 1 Oktober 2004. Karena dalam jangka waktu 1 tahun itu yang tiga bulan jatuh dalam tahun 2004 dan yang 9 bulan jatuh dalam tahun 2005, maka pendapatan sewanya juga harus dibagi untuk tahun 2004 dan 2005.
Pendapatan sewa tahun 2004 sebesar:
    3/12 x Rp. 900.000 = Rp. 225.000,-
Pendapatan sewa tahun 2005 sebesar:
    9/12 x Rp. 900.000 = Rp. 675.000,-

Apabila penerimaan uang sewa pada tanggal 1 Oktober 2004 dicatat dalam akun pendapatan sewa, maka jurnal penyesuaian tanggal 31 Desember 2004 sebagai berikut.
Pendapatan sewa                Rp. 675.000
Sewa diterima di muka                Rp. 225.000

Pada tanggal 2 Januari 2005 akan dibuat jurnal penyesuaian kembali untuk mengembalikan sewa dibayar di muka sebesar Rp.675.000 ke akun pendapatan sewa. Hal ini dilakukan karena penerimaan sewa tahun berikutnya akan dicatat dalam akun pendapatan sewa.

Jurnal penyesuaian kembali tanggal 2 Januari 2005 adalah:
Sewa diterima di muka                Rp. 675.000
Pendapatan sewa                Rp. 675.000

Jika penerimaan uang sewa pada tanggal 1 Oktober 2004 dicatat dalam akun sewa diterima di muka, maka jurnal penyesuaian yang dibuat pada tanggal 31 desember 2004 sebagai berikut.
Sewa diterima di muka                 Rp. 225.000
Pedapatan sewa                     Rp. 225.000

Pada tanggal 2 Januari 2005 tidak perlu dibuat jurnal penyesuaian kembali karena penerimaan yang belum diakui sebagai pendapatan masih tercantum dalam akun sewa diterima di muka. Hal ini akan berlaku pula untuk tahun 2002 di mana penerimaan uang sewa berikutnya akan dicatat dalam akaun sewa diterima di muka.

4.     Pendapatan yang Masih akan Diterima (Accured Income)
Pendapatan yang masih akan dierima adalah pendapatan yang sudah diperoleh, tetapi masih belum diterima dan belum dicatat dalam akun-akun. Oleh sebab itu, setiap akhir periode harus dibuat penyesuaian untuk mencatat pendapatan itu.

Contoh:
Pada tanggal 31 Desember 2004, sebuah jasa servis mesin industri terdapat mesin yang sudah selesai diperbaiki dengan harga perbaikan Rp.2.000.000,-. Mesin tersebut belum diserahkan kepada customer (pelanggan). Perbaikan mesin tersebut dilakukan pada tahun 2004, sehingga pendapatan jasa sebesar Rp.2.000.000,- harus dicatat untuk tahun 2004. Oleh sebab itu, jurnal penyesuaian yang diperlukan pada 31 Desember 2004 yaitu:

Untuk menambah pemahaman kita mengenai jurnal penyesuaian, kita kembali pada proses akuntansi Central komputer.
Pada tanggal 31 Desember 2004 Tn. Rizwan memeriksa neraca saldo dan memutuskan sebagai berikut.
a.    Asuransi dibayar di muka sebesar Rp.240.000,00 adalah untuk masa 1 tahun terhitung sejak bulan Desember 2004.
b.    Nilai persediaan perlengkapan servis komputer pada 31 Desember 2004 ditaksir seharga Rp. 3.000.000,00.
c.    Penyusutan peralatan komputer yang menjadi beban penyusutan bulan Desember 2004 ditetapkan sebesar Rp.40.000,00.
d.    Gaji karyawan sebesar Rp.400.000,00 belum dibayar.
e.    Beban sewa sebesar Rp.1.500.000,00 adalah untuk sewa ruangan selama 1 tahun terhitung mulai bulan Desember 2004.

Dari hasil pemerikasan di atas, maka dapat dibuat jurnal penyesuaiannya sebagai berikut.

Setelah semua ayat jurnal penyesuaian dicatat, maka akun dalam neraca saldo akan mencerminkan keadaan sebenarnya. Tujuan dari penyusunan neraca saldo dan jurnal penyesuaian adalah untukmenyusun laporan keuangan. Untuk penyusunan laporan keuangan perlu dibuat kertas kerja (work sheet) atau yang biasa disebut dengan Neraca lajur.